
Bantuan listrik PLN jadi penggerak pertanian Desa Kedungwaru Kebumen

Kebumen (ANTARA) - Bantuan PT PLN (Persero) Unit Induk Distribusi (UID) Jawa Tengah melalui Program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) menghadirkan Kawasan Pertanian Pintar, sebuah langkah nyata mendorong electrifying lifestyle di sektor pertanian di Desa Kedungwaru, Karangsambung, Kebupaten Kebumen, Jawa Tengah.
"Listrik kini bukan sekadar penerang, tetapi menjadi penggerak kehidupan baru bagi sekitar 210 petani yang menggantungkan hidupnya pada 25 hektare lahan pertanian di desa ini," kata General Manager PLN UID Jawa Tengah Bramantyo Anggun Pambudi di Kebumen, Minggu.
Ia menegaskan, program ini merupakan bagian dari komitmen PLN dalam menghadirkan manfaat listrik hingga ke pelosok.
"Electrifying lifestyle adalah tentang bagaimana listrik mampu meningkatkan kualitas hidup masyarakat," katanya.
“Program ini menunjukkan bahwa listrik bukan hanya kebutuhan, tetapi solusi. Kami ingin mendorong gaya hidup listrik atau electrifying lifestyle yang mampu meningkatkan produktivitas sekaligus kesejahteraan masyarakat. Di Kebumen, listrik tidak hanya menyalakan lampu, tetapi juga mengalirkan air, menghidupkan sawah, dan menumbuhkan harapan," katanya menambahkan.
Ia menuturkan, lebih dari sekadar infrastruktur, bantuan ini adalah simbol kehadiran negara. Dari yang sebelumnya tidak memiliki sarana pengairan memadai, kini telah terbangun sistem pompanisasi listrik yang mampu mengairi lahan secara optimal.
Ketua sekaligus anggota Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Sidoluhur Desa Kedungwaru Akhmad Fakhrudin menyampaikan perubahan itu terasa seperti keajaiban kecil yang datang di waktu yang tepat.
"Dulu kami sering berpikir dua kali untuk menyalakan pompa karena biaya bahan bakar minyak mahal. Sekarang, tinggal nyalakan listrik, air mengalir, hati pun lebih tenang," katanya.
Ia menuturkan, jika dulu hanya untuk membuka lahan, petani harus menghabiskan hingga Rp900 ribu kini turun hampir setengahnya. Hal tersebut menimbulkan rasa optimis penurunan biaya produksi dan operasional pada masa panen tahun 2026.
Dari sisi efisiensi, teknologi pompa listrik berbasis IoT (Internet of Things) yang dibangun memungkinkan petani mengetahui kapan waktu terbaik untuk mengairi sawah sehingga air tak lagi terbuang sia-sia.
Menurut dia, harapan untuk meningkatkan frekuensi panen menjadi 2 hingga 3 kali dalam setahun kini bukan lagi mimpi.
Camat Karangsambung Siti Nuriatun Faoziyah menyampaikan, perubahan ini bukan hanya soal efisiensi biaya, tetapi juga tentang masa depan lingkungan.
"Setelah penggunaan listrik PLN, petani dapat mengurangi emisi yang timbul dari mesin pompa diesel berbahan bakar minyak serta mendapatkan optimalisasi dan efisiensi dari biaya produksi," katanya.
Pewarta: Heru Suyitno
Editor:
Teguh Imam Wibowo
COPYRIGHT © ANTARA 2026
