Dharen, Remaja "Ajaib" Siap Cetak Rekor Dunia
Selasa, 8 April 2014 9:34 WIB
Sri Dharen (dok pribadi)
"Sebenarnya, kami sudah lama ingin mengajukan Dharen ke 'Guinness Book of Record'. Tapi, usia Dharen waktu itu belum 14 tahun," kata Kanna Dasan (50) ayahanda Dharen, saat dihubungi dari Semarang, Senin.
Kemampuan Dharen pun sudah tercatat dalam Museum Rekor Dunia Indonesia (Muri) sebagai "Terapis Yang Mampu Mendeteksi Penyakit dan Organ Tubuh Tanpa Alat Bantu" dengan nomor rekor 6013/R.MURI/VI/2013.
Bahkan, baru saja Dharen mencatatkan namanya dalam Asia Book of Records untuk kategori "Strange but True" sebagai "A Unique Ability to See Through Flesh" karena mampu melihat menembus daging manusia.
Kanna menjelaskan rekor Asia itu diperolehnya pada 25 Maret 2014, melalui proses panjang selama sekitar 6-7 bulan karena penyelenggara rekor Asia perlu mengkaji kemampuan unik yang dimiliki Dharen tersebut.
"Sebenarnya mau langsung 'Guinness Book of Record', tetapi syaratnya usia minimal 14 tahun. Akhirnya, kami coba rekor Asia dulu. Kami kirimkan persyaratannya secara 'online' tahapan demi tahapan," katanya.
Namun, kata dia, Dharen tidak langsung mendapatkan rekor setelah seluruh persyaratannya dikirim, sebab pihak Asia Book of Record perlu mengkaji kemampuan Dharen, termasuk pasien-pasien yang sudah disembuhkannya.
"Kurang lebih 6-7 bulan setelah kami kirimkan berkas-berkasnya, baru pihak Asia Book of Record mengirimkan sertifikat rekor beserta tropi. Setelah ini, Dharen akan coba ke ajang rekor dunia," katanya.
Remaja kelahiran Semarang, 27 Oktober 2000 yang kini duduk di jenjang kelas II SMP itu memiliki kemampuan tembus pandang melihat organ tubuh manusia sejak berusia sembilan tahun yang diperolehnya secara tiba-tiba.
Kanna menceritakan kemampuan anaknya itu diketahuinya secara tak sengaja beberapa tahun silam ketika sedang makan bersama keluarga, tiba-tiba Dharen menyampaikan suatu hal yang mengagetkannya.
"Dharen ketika itu baru berusia sembilan tahun. Tiba-tiba dia bilang bisa melihat isi perut saya. 'Bentuk kantong nasi (lambung) ayah kok tidak sama seperti perut ibu? Agak lonjong'," katanya, menirukan ucapan Dharen.
Menurut dia, lambungnya juga dikatakan berisi busa-busa seperti asam, dan Dharen kemudian meminta izin memegang perut Kanna. Seketika itu, Kanna langsung muntah dan dirinya merasa kondisinya lebih baik.
"Kebetulan, saya pernah periksa endoskopi yang hasilnya ternyata sama dengan apa yang dia (Dharen) bilang. Setelah kejadian itu, saya kemudian cerita teman yang menderita batu ginjal dan bisa sembuh," ujar Kanna.
Setelah itu, kemampuan Dharen pun menyebar secara luas, terutama melalui media dan jejaring sosial sehingga sampai saat ini sudah ada ribuan yang telah merasakan kemampuan terapi remaja "ajaib" itu.
Putra kedua pasangan Kanna Dasan (50) dan Wani Sri (38) itu melayani pasien di kediamannya di Perumahan Gading Serpong-Kluster Trimezia 6 Nomor 60 Tangerang, namun menyesuaikan dengan jadwalnya bersekolah.
"Kami tidak tarik biaya. Hanya jadwal terapinya saya batasi, kasihan Dharen masih sekolah. Pasien yang tidak bisa datang bisa mengirim foto atau video. Asal, waktu pengambilannya tidak lebih dari dua jam," kata Kanna.
Pewarta : Zuhdiar Laeis
Editor : Mahmudah
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Polres Pemalang bersama 32 sekolah deklarasikan Generasi Muda Mitra Kamtibmas
26 April 2026 22:24 WIB
Anggota DPR RI mengajak kader PMII untuk peduli terhadap kesehatan mental remaja
05 March 2026 8:41 WIB
Mahasiswa KKN-DIK FKIP UMS selar sosialisasi public speaking bagi remaja Desa Parakan
20 February 2026 17:51 WIB
UMS raih Bronze Medal IPITEx 2026, ZIMO hadirkan inovasi AI untuk pantau gizi dan aktivitas remaja
17 January 2026 16:20 WIB