"Itu tidak betul (Wahyu dipecat). Tidak ada yang dipecat. Secara prinsip, Mas Wahyu mengundurkan diri. Memecat dan mengundurkan diri itu berbeda," kata Rektor Udinus Edi Noer Sasongko di Semarang, Rabu.

         Menurut dia, sebenarnya Udinus juga menyesal kehilangan Wahyu karena yang bersangkutan tergolong mahasiswa pintar dengan indeks prestasi komulatif (IPK) sebesar 3,6, serta sudah diangkat sebagai asisten dosen.

         Edi mengungkapkan Wahyu juga mendapatkan beasiswa dari Udinus, kemudian beasiswa dari salah satu perusahaan perbankan sehingga prestasi yang diraih yang bersangkutan merupakan impian seluruh mahasiswa.

         Apalagi, kata dia, Wahyu yang saat itu duduk di semester V Program Studi Teknik Informatika Udinus tersebut juga menjadi Ketua Majelis Permusyawaratan Mahasiswa (MPM) Udinus.

         "Sudah pinter, dapat beasiswa, jadi asisten pengajar. Itu kan impian mahasiswa semua. Ketemu, orangnya juga baik, karena itu kami tidak tahu kenapa Mas Wahyu 'nulis elek-elek' (jelek) tentang Udinus," katanya.

         Ia mengaku sebagai Rektor tidak bersikap antikritik, serta mempersilakan mahasiswa menyampaikan kritik lewat saluran yang sudah disediakan, seperti "SMS centre", atau saat pertemuan langsung dengan rektorat.

         "Kalau ada apa-apa bisa ketemu langsung dan kita bicarakan. Banyak macam saluran yang bisa kita bicarakan. Satu hal yang kita tidak tahu kenapa Mas Wahyu terus menulis 'sing elek-elek' tentang Udinus di 'blog'," katanya.

         Karena itu, kata dia, pihaknya kemudian memanggil Wahyu dan orang tua yang bersangkutan untuk menawarkan pilihan, daripada yang bersangkutan berkuliah tidak nyaman di kampus yang dianggapnya jelek terus.

         "Satu sisi, dia anak muda, 'pinter', masa depannya panjang. Justru kasihan kalau dia ada di Udinus tapi 'ngelek-elek wae' padahal kita sudah berusaha berikan yang terbaik. Dia dan orang tuanya lalu kami panggil," katanya.

         Edi mengatakan pihaknya kemudian memberikan tawaran kepada Wahyu untuk berpisah secara baik-baik, akan dibantu jika ingin melanjutkan kuliah ke mana yang diinginkannya, dan mengembalikan seluruh uang kuliahnya.

         "Uang Rp26 juta yang sudah dibayar selama kuliah kita kembalikan, surat bukti jadi asisten pengajar kita berikan. Ada bapaknya, ibunya, dan Mas Wahyu sendiri, saat itu Wahyu sepakat untuk mengundurkan diri," kata Edi.