Demak (ANTARA) - Pemerintah Kabupaten Demak, Jawa Tengah, melestarikan tradisi iring-iringan Prajurit Patangpuluhan Demak yang menjadi salah satu warisan budaya dan religi khas Kota Wali pada setiap Hari Raya Idul Adha.

Bupati Demak Eisti'anah di Demak, Rabu, mengatakan iring-iringan Prajurit Patangpuluhan Demak menjadi tradisi tahunan yang terus digelar setiap perayaan Hari Raya Idul Adha di Kabupaten Demak.

Selain sebagai bentuk pelestarian budaya dan warisan leluhur, tradisi tersebut diharapkan terus dijaga dan dilestarikan oleh generasi mendatang.

"Saya berharap tradisi ini terus dilestarikan karena menjadi bagian dari identitas budaya dan sejarah Kabupaten Demak," ujarnya.

Puncak rangkaian Grebeg Besar Demak tahun 2026 berlangsung meriah dan penuh nuansa sakral karena dimeriahkan dengan iring-iringan Prajurit Patangpuluhan.

Tradisi tahunan tersebut kembali menarik ribuan wisatawan dan masyarakat dari berbagai daerah untuk datang ke Kabupaten Demak.

Dalam prosesi kirab tersebut, para prajurit tampil gagah mengenakan busana tradisional lengkap dengan tombak dan tameng.

Prajurit Patangpuluhan mengawal rombongan Bupati Demak bersama Forkopimda dan para kepala organisasi perangkat daerah (OPD) menuju kawasan Makam Sunan Kalijaga di Kadilangu.

Rombongan kirab juga membawa kembang setaman serta berbagai "ubo rampe" atau sesaji yang digunakan sebagai campuran dalam prosesi penjamasan pusaka peninggalan Kanjeng Sunan Kalijaga bersama kasepuhan Kadilangu.

Adapun rute kirab dimulai dari Pendopo Kabupaten Demak, melintasi Jalan Jimat, kawasan Pecinan, Jalan Sultan Fatah, depan Pasar Bintoro, Kracaan, Jalan Sunan Kalijaga, Jalan Raden Sahid, hingga berakhir di kompleks Makam Sunan Kalijaga Kadilangu.

Berdasarkan sejarahnya, keberadaan prajurit patangpuluhan menjadi salah satu bagian penting dalam tradisi Grebeg Besar Demak. Keberadaan pasukan tersebut tidak hanya menjadi simbol sejarah Kerajaan Demak Bintoro, tetapi juga memiliki nilai religi dan budaya yang kuat.

Prajurit patangpuluhan pada masa dahulu merupakan pasukan elit Kerajaan Demak Bintoro yang berjumlah 40 orang dan dikenal sebagai prajurit kerajaan yang bertugas mengawal berbagai kegiatan penting kerajaan.

Tradisi prajurit patangpuluhan hingga kini masih dipertahankan sebagai bagian dari rangkaian acara Grebeg Besar Demak yang diperingati setiap tanggal 10 Dzulhijjah atau Hari Raya Idul Adha, khususnya dalam prosesi pemberangkatan minyak jamas.

Dalam tradisi tersebut, Prajurit Patangpuluhan Demak memiliki tugas mengawal minyak jamas pemberian Raja Demak Bintoro yang akan diserahkan kepada sesepuh Kadilangu Demak. Minyak jamas tersebut digunakan untuk menjamas atau membersihkan pusaka peninggalan Sunan Kalijaga, yakni Keris Kiai Crubuk dan Kutang Ontokusumo.

Pemerintah Kabupaten Demak berharap tradisi Grebeg Besar dan iring-iringan Prajurit Patangpuluhan dapat terus menjadi identitas budaya Kota Wali, sekaligus mendorong pertumbuhan sektor pariwisata dan perekonomian masyarakat lokal.



Baca juga: Pemprov Jateng kaji kembangkan kawasan industri halal di Demak