Solo (ANTARA) - Di tengah kesibukan sebagai dosen Fakultas Komunikasi dan Informatika (FKI) , Dedi Gunawan, S.T., M.Sc., Ph.D., justru menemukan dunia lain yang tak kalah menantang yakni dengan memelihara burung.
Aktivitas yang awalnya sekedar pengusir jenuh di masa pandemi COVID-19, kini berkembang menjadi hobi sekaligus ladang prestasi dan inspirasi.
Hobinya ini bahkan menginspirasi karya akademik. Dedi mengaku salah satu publikasi ilmiahnya yang terindeks Scopus Q1 dengan judul penelitian “COMATS: a cuckoo-mimicking data anonymization scheme for preserving sensitive preferences in transaction data” terinspirasi dari perilaku burung, khususnya burung cuckoo. Di Indonesia, burung ini dikenal dengan burung kukuk atau burung kutilang.
“Paper saya yang Q1 itu idenya terinspirasi dari burung. Dari situ saya mengadopsi strateginya, yaitu kebiasaan invasif mereka dalam meletakkan dan menitipkan telurnya ke dalam sarang burung lain (sarang inang) untuk bereproduksi,” ungkapnya di Solo, Jawa Tengah, Selasa.
Metode COMATS mempunyai lima langkah utama untuk membuat data menjadi anonim (tidak bisa dikenali), salah satunya dengan mengganti data yang dianggap sensitif dengan data lain yang tidak sensitif. Dengan begitu, privasi tetap terlindungi, tetapi data masih tetap berguna dan tidak banyak kehilangan informasi penting.
Dedi mengisahkan ketertarikannya pada burung bermula saat masa pembatasan aktivitas membuatnya lebih banyak menghabiskan waktu di rumah. Rutinitas mengajar dan bekerja di depan layar komputer memunculkan kejenuhan yang kemudian mendorongnya mencari aktivitas alternatif.
“Jadi awalnya itu waktu pandemi. Habis ngajar di Zoom, terus tidak ngapa-ngapain. Di rumah terus menghadap laptop. Kadang jenuh, akhirnya coba pelihara burung satu, ternyata asyik dan keterusan,” ujarnya.
Dari satu ekor burung kenari yang dikenal mudah perawatannya, ketertarikannya berkembang menjadi lebih serius. Ia mulai mencoba jenis lain hingga akhirnya menekuni murai batu, yang kini menjadi favoritnya. Menurutnya, murai batu memiliki keistimewaan dalam kemampuan meniru suara sehingga menjadi burung andalan untuk dilombakan.
“Favorit saya murai batu. Itu yang bisa dilombakan dan punya nilai lebih,” ungkapnya.
Meski terlihat jauh dari bidang keilmuannya di informatika, Dedi menilai sebenarnya ada potensi keterkaitan antara teknologi dan dunia perburungan. Ia menyebut kajian seperti analisis frekuensi suara hingga klasifikasi hewan dapat dikembangkan menjadi riset berbasis informatika.
“Di informatika itu bisa untuk mengukur frekuensi suara, kerapatan bunyi, bahkan klasifikasi. Itu sebenarnya bisa jadi penelitian,” jelasnya.
Saat ini, ia tidak hanya memelihara, tetapi juga membudidayakan burung, khususnya murai batu. Dalam kesehariannya, Dedi mengaku tidak mengalami kesulitan berarti dalam membagi waktu antara aktivitas akademik dan hobinya. Perawatan burung ternak relatif sederhana dan dapat dilakukan di pagi hari sebelum berangkat ke kampus.
“Pagi itu rutinitas saya untuk merawat burung, mulai jam enam sampai setengah tujuh sudah selesai. Setelah itu, saya siap-siap ke kampus,” katanya.
Namun, perawatan burung lomba memiliki tingkat perhatian yang lebih tinggi. Menurutnya, kunci utama agar burung dapat berprestasi adalah menjaga kesehatan melalui pakan yang tepat. Ia bahkan memiliki metode tersendiri dengan memberikan pakan alami berbasis empon-empon melalui jangkrik yang dikonsumsi burung.
“Kalau mau juara itu harus sehat dulu. Jangkrik yang dimakan burung saya kasih makan kunyit, jahe, dan empon-empon. Jadi nutrisinya masuk ke burung,” tuturnya.
Pengalaman Dedi di dunia lomba burung juga tidak bisa dianggap remeh. Ia telah mengikuti berbagai kompetisi di wilayah Solo Raya dan sekitarnya. Baginya, dunia lomba tidak hanya soal hobi, tetapi juga memiliki potensi ekonomi yang cukup menjanjikan.
“Paling enak itu jual beli atau ternak. Kalau burung dilombakan dan menang, nilainya bisa naik. Walaupun sekarang tidak seperti lima tahun lalu, tapi masih prospek,” jelasnya.
Fenomena viral lagu “kicau mania” yang berkaitan dengan dunia perburungan juga menurutnya mencerminkan realitas di lapangan. Ia menyinggung nilai burung bisa mencapai angka fantastis, bahkan hingga miliaran rupiah.
“Itu memang menggambarkan kondisi nyata. Ada burung yang bisa laku sampai satu miliar,” katanya.
Menariknya, perjalanan Dedi di dunia perburungan juga bermula dari interaksi dengan mahasiswa. Ia menceritakan bahwa ketertarikannya semakin dalam setelah mengetahui salah satu mahasiswanya memiliki burung berkualitas. Dari situlah ia kemudian mendapatkan burung anakan yang hingga kini masih dirawatnya.
“Awalnya dari mahasiswa. Waktu ujian skripsi online, saya dengar suara burungnya bagus. Saya tanya, akhirnya saya dikasih anakan. Sampai sekarang masih saya rawat,” kenangnya.
Ia pun berharap, hobi seperti ini dapat menjadi peluang bagi mahasiswa maupun dosen lain untuk mengembangkan kewirausahaan sekaligus inovasi riset. Dunia perburungan, menurutnya, tidak hanya menawarkan hiburan, tetapi juga potensi ekonomi dan inspirasi ilmiah yang luas.