Semarang (ANTARA) - Pemerintah Kota Semarang terus memperkuat komitmen pengelolaan sampah berbasis komunitas, salah satunya dengan pembangunan Tempat Pembuangan Sampah (TPS) Bugen, Tlogosari Wetan.
Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng Pramestuti, di Semarang, Kamis, mengatakan bahwa TPS Bugen yang di Kelurahan Tlogosari Wetan, Kecamatan Pedurungan, berbeda dengan TPS-TPS lainnya.
Ia menjelaskan TPA Bugen dirancang tidak hanya sebagai lokasi penampungan sampah sementara, tetapi juga sebagai sarana edukasi dan gerakan sadar lingkungan bagi masyarakat setempat.
"TPS Tlogosari Wetan bukan sekadar fasilitas, tetapi simbol kebersamaan kita. Dengan TPS ini, warga dapat memilah sampah dari sumbernya sehingga volume sampah yang dibuang ke tempat pemrosesan akhir (TPA) dapat dikurangi," katanya.
Ia juga menyoroti persoalan klasik penempatan TPS yang selama ini kerap ditolak masyarakat.
"Kalau TPS di pinggir jalan dibilang jelek. Di tengah permukiman juga diprotes. Tapi setiap orang menghasilkan sampah. Mau dibuang ke mana kalau tidak ada TPS?" katanya.
Karena itu, kata dia, TPS Bugen disebut sebagai satu dari sedikit TPS yang dibangun tanpa penolakan warga, dan akan dijadikan "pilot project" TPS percontohan Kota Semarang.
Selain itu, TPS Bugen disiapkan lebih dari sekadar titik buang sampah, sebab akan dikembangkan menjadi pusat budi daya maggot untuk mengolah sampah organik, bekerja sama dengan tokoh masyarakat dan jejaring lingkungan hidup serta akademisi.
Sebagai bagian dari ekosistem pengolahan organik, Agustina juga mendorong koordinasi dengan dapur-dapur produksi makanan seperti SPPG/MBG agar sampah organik dipilah dan disalurkan sebagai pakan maggot.
"Kalau kita ingin perubahan dalam budaya bersih kota, prosesnya memang harus dimulai dari TPS. TPS ini harus hidup secara ekonomi, memberi manfaat bagi yang mengelola, dan berdampak bagi lingkungan," katanya.
Berdasarkan data profil pengelolaan limbah perkotaan, total timbulan sampah di Semarang mencapai lebih dari 1.200 ton per hari, dan hanya sebagian yang dikelola dengan prinsip 3R atau melalui pengumpulan formal.
Sampah yang menyumbat saluran air dan sungai sering menjadi penyebab genangan saat musim hujan di kawasan timur kota, termasuk di wilayah sekitar Tlogosari.
Kondisi tersebut menjadi pengingat pentingnya pengelolaan sampah yang sistematis dari tingkat RT/RW hingga kota.
Agustina menyampaikan bahwa pemerintah akan terus mengawal pengoperasian TPS tersebut dengan program pendampingan dan sosialisasi.
"Program ini harus menjadi inspirasi lintas kelurahan, karena kota bersih dimulai dari rumah kita sendiri," pungkasnya.
Baca juga: Wujudkan Semarang Bersih, Pemkot Semarang: Pengelolaan sampah libatkan lintas OPD