Kebumen (ANTARA) - Kepulangan ke kampung halaman kerap dipandang sebagai langkah mundur, namun bagi Novita Hermawan, keputusan pulang ke kampung halaman suami di Desa Selang, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah, justru menjadi titik balik yang mengubah arah hidupnya.

Sebelum pandemi COVID-19, Novita bekerja pada sebuah perusahaan kontraktor di Jakarta. Sang suami, Rudi Hermawan, berkarier di salah satu anak perusahaan badan usaha milik negara (BUMN) di bidang telekomunikasi.

Ketika pandemi melanda, kontrak kerja Rudi ditahan, aktivitas proyek melambat, dan masa depan terasa tidak menentu.

“Kami akhirnya memutuskan pulang ke Kebumen naik sepeda motor. Tidak ada rencana besar waktu itu, yang penting bisa bertahan,” kata Novita yang asli Betawi.

Di Kebumen, Novita dan suami memulai usaha mina padi, namun tidak bisa berjalan sesuai harapan hingga akhirnya mereka melihat kenyataan yang selama ini luput dari perhatian. Daerah tersebut kaya tanaman pisang, tetapi limbah pelepahnya hanya dibiarkan membusuk atau dibakar.

Padahal, pelepah pisang memiliki serat kuat yang berpotensi diolah menjadi produk bernilai ekonomi.

Berangkat dari rasa penasaran, keduanya mulai melakukan riset mandiri. Mereka mempelajari bagaimana pelepah pisang diolah di berbagai negara, sekaligus mencermati tren global terhadap produk ramah lingkungan.

Saat itu, permintaan pasar internasional terhadap produk berbasis serat alam tengah meningkat seiring menguatnya kesadaran akan keberlanjutan dan Sustainable Development Goals (SDGs).

Mereka pun merintis usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) berbasis limbah pelepah pisang yang kini menembus pasar ekspor lintas benua.

Pada 2021, Novita dan Rudi mendirikan PT Agromina Fiber Java Indonesia. Sejak awal, Agromina diposisikan sebagai social enterprise, sebuah usaha yang tidak hanya mengejar keuntungan, juga membawa dampak sosial dan lingkungan.

“Kami ingin punya tanggung jawab terhadap lingkungan, tapi tetap harus bisa menghasilkan nilai ekonomi,” kata Novita yang kini menjabat sebagai Chief Marketing Officer (CMO).

Agromina memulai usaha dari hulu, dengan mengolah limbah pelepah pisang menjadi bahan baku serat. Prosesnya dimulai dari pengumpulan pelepah pisang dari petani, pemilahan, pengeringan, hingga pemintalan menjadi tali serat.

Dari bahan baku itu, Agromina mengembangkan produk seperti keranjang, dekorasi dinding, dan kap lampu.

Konsep zero waste menjadi prinsip utama. Sisa pelepah pisang yang tidak terpakai kembali diolah menjadi bio-leather atau vegan leather. Dengan demikian, hampir tidak ada limbah yang terbuang.

“Banyak yang bicara soal keberlanjutan, tapi berhenti di slogan. Kami mencoba menjalankannya dari awal sampai akhir,” kata Novita.

Dua tahun pertama menjadi fase paling menantang. Agromina harus mengedukasi petani dan perajin tentang cara mengolah pelepah pisang dengan standar kualitas yang konsisten.

Tantangan utama datang dari sumber daya manusia, karena sebagian besar perajin belum terbiasa dengan tuntutan kualitas pasar ekspor.

Namun, pendekatan perlahan membuahkan hasil. Saat ini, Agromina memberdayakan sekitar 170 perajin, dengan sekitar 70 persen di antaranya perempuan. Para perajin tersebar di Kebumen, Purworejo, Cilacap, Purbalingga, dan Banjarnegara.

Sistem klaster diterapkan agar produksi tetap berjalan efisien, karena para perajin bekerja dari rumah masing-masing, sementara Agromina menempatkan koordinator di setiap wilayah. Pola ini dinilai lebih sesuai dengan kondisi sosial dan budaya masyarakat setempat.

Bagi Novita dan Rudi, keberlanjutan sosial sama pentingnya dengan lingkungan. Mereka tetap bisa bekerja tanpa meninggalkan keluarga dan aktivitas budaya.

Upaya Agromina mulai membuahkan hasil ketika produk-produknya menarik minat pasar luar negeri. Ekspor perdana dilakukan ke Nigeria, disusul Dubai, Chile, Argentina, Belgia, Selandia Baru, dan Amerika Serikat.

Saat ini, pengiriman ke Amerika dilakukan secara reguler setiap dua bulan, dengan volume dua hingga tiga kontainer.

Produk yang paling diminati pasar ekspor adalah keranjang berbahan serat pelepah pisang, disusul dekorasi dinding dan kap lampu. Harga satu set keranjang untuk pasar ekspor berkisar Rp250.000 hingga Rp350.000, sementara kap lampu dapat mencapai Rp650.000 per unit.

Untuk menjaga kepercayaan pasar global, Agromina serius membenahi aspek legalitas. Perusahaan ini telah mengantongi ISO 14001 terkait manajemen lingkungan dan ISO 9001 terkait manajemen mutu, serta hak kekayaan intelektual (HKI).

Saat ini, Agromina juga tengah menyusun sistem traceability dan geotagging produk sebagai syarat memasuki pasar Eropa.

“Walaupun kami UMKM, pola pikir kami harus sudah menengah ke atas. Banyak orang di bawah kami yang bergantung,” ujar Novita.

Bahan baku pelepah pisang juga terus dijaga keberlanjutannya. Jenis pisang batu dan kepok menjadi pilihan utama karena kualitas seratnya. Pasokan berasal dari Kebumen dan sejumlah daerah lain di Jawa Tengah.

Bahkan, Agromina mulai memberdayakan mantan pekerja pabrik bulu mata palsu di Purbalingga yang terdampak penutupan industri.

Komitmen sosial Agromina diperluas dengan membina santri, pemuda tani, serta warga rumah tahanan (rutan) Kebumen. Mereka dibekali keterampilan sebagai bekal hidup setelah kembali ke masyarakat.

Pengakuan nasional datang ketika Novita terpilih masuk 10 besar Pertapreneur Aggregator tingkat nasional, dengan pertumbuhan omzet di atas 100 persen. Penilaian tidak hanya melihat kinerja bisnis, juga dampak sosial dan keberlanjutan usaha.

Ke depan, Agromina terus menyiapkan inovasi. Salah satunya riset pengembangan paper sheet dari serat pelepah pisang yang dapat ditanami kembali setelah digunakan, sebagai alternatif kertas ramah lingkungan.

Pembuatan keranjang anyaman berbahan baku limbah pelepah pisang di Workshop Agrominafiber Java Indonesia, Desa Selang, Kecamatan Kebumen, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah, Kamis (22/1/2026). ANTARA/Sumarwoto

Perjalanan Agromina juga tidak lepas dari pendampingan PT Pertamina (Persero). Area Manager Communication, Relations and CSR PT Kilang Pertamina Internasional (KPI) RU IV Cilacap Cecep Supriyatna mengatakan Agromina merupakan mitra binaan yang memiliki potensi kuat untuk berkembang.

“Agromina memanfaatkan limbah menjadi produk bernilai dan berdampak bagi masyarakat. Ini sejalan dengan komitmen Pertamina dalam pemberdayaan UMKM dan pelestarian lingkungan,” katanya.

Menurut dia, melalui program UMK Akademi dan pembinaan Pertamina RU IV Cilacap, perusahaan memberikan pendampingan, dukungan permodalan, serta membuka akses pameran dan pasar ekspor. Tujuannya agar UMKM tidak hanya bertahan, tetapi tumbuh mandiri dan berdaya saing global.

Dari pelepah pisang yang dulu dianggap limbah, Agromina Fiber kini merajut harapan. Kisah Novita Hermawan membuktikan bahwa kepulangan ke desa bukan akhir perjalanan, melainkan awal langkah UMKM lokal menuju pasar dunia.