BI minimalisasi peredaran uang palsu
Rabu, 20 Maret 2024 6:50 WIB
Ilustrasi-Salah satu warga sedang menukar uang baru di Solo, Jawa Tengah, beberapa waktu lalu. ANTARA/Aris Wasita
Solo (ANTARA) - Bank Indonesia (BI) Surakarta berupaya meminimalisasi peredaran uang palsu di kalangan masyarakat jelang Lebaran 2024 salah satu yang dilakukan adalah berupaya menangkal keberadaan pedagang uang di jalanan..
Kepala Perwakilan (Kpw) BI Surakarta Dwiyanto Cahyo Sumirat di Solo, Jawa Tengah, Selasa mengatakan upaya lain adalah pihaknya juga masih menggunakan aplikasi PINTAR untuk penukaran uang baru," katanya.
Ia berharap dengan berbagai upaya tersebut dapat meminimalisasi potensi akses yang bisa diperoleh oleh para pedagang yang ada di jalan.
"Mereka akan selalu menemukan inovasi untuk bisa menerobos celah-celah itu, tapi kami tetap kawal prosesnya," katanya.
Kepala Implementasi Pengelolaan Uang Rupiah BI Kantor Perwakilan Surakarta Anang Dwi Mau Asharli mengatakan jika di tahun-tahun sebelumnya penukaran uang baru khusus untuk masyarakat hanya dilakukan setiap hari Selasa dan Kamis, saat ini dapat dilakukan setiap hari.
"Bahkan sampai hari kerja terakhir sebelum libur Lebaran masih bisa menukar di 93 titik yang kami siapkan," katanya.
Selain itu, pihaknya juga berupaya terus mengingatkan ke masyarakat bahwa menukar uang baru ke pedagang uang sangat berisiko, di antaranya bisa kena uang palsu dan hitungan yang tidak sesuai.
"Kan pernah kejadian seperti itu, ternyata yang didapat tidak 100 lembar. Bagi pedagangnya juga ada risiko, pernah dirampok, itu juga beberapa kali orang seperti mau beli tapi malah merampok," katanya.
Sementara itu, pihaknya juga siap melakukan koordinasi dengan instansi terkait seperti Satpol PP dan Kepolisian jika keberadaan pedagang uang sampai mengganggu pengguna jalan.
"Nanti kalau misalkan ada kejadian yang sudah masif dan mengganggu lalu lintas, mungkin BI akan meminta Satpol PP dan Kepolisian untuk bersiap menertibkan karena mengganggu jalan," katanya
Kepala Perwakilan (Kpw) BI Surakarta Dwiyanto Cahyo Sumirat di Solo, Jawa Tengah, Selasa mengatakan upaya lain adalah pihaknya juga masih menggunakan aplikasi PINTAR untuk penukaran uang baru," katanya.
Ia berharap dengan berbagai upaya tersebut dapat meminimalisasi potensi akses yang bisa diperoleh oleh para pedagang yang ada di jalan.
"Mereka akan selalu menemukan inovasi untuk bisa menerobos celah-celah itu, tapi kami tetap kawal prosesnya," katanya.
Kepala Implementasi Pengelolaan Uang Rupiah BI Kantor Perwakilan Surakarta Anang Dwi Mau Asharli mengatakan jika di tahun-tahun sebelumnya penukaran uang baru khusus untuk masyarakat hanya dilakukan setiap hari Selasa dan Kamis, saat ini dapat dilakukan setiap hari.
"Bahkan sampai hari kerja terakhir sebelum libur Lebaran masih bisa menukar di 93 titik yang kami siapkan," katanya.
Selain itu, pihaknya juga berupaya terus mengingatkan ke masyarakat bahwa menukar uang baru ke pedagang uang sangat berisiko, di antaranya bisa kena uang palsu dan hitungan yang tidak sesuai.
"Kan pernah kejadian seperti itu, ternyata yang didapat tidak 100 lembar. Bagi pedagangnya juga ada risiko, pernah dirampok, itu juga beberapa kali orang seperti mau beli tapi malah merampok," katanya.
Sementara itu, pihaknya juga siap melakukan koordinasi dengan instansi terkait seperti Satpol PP dan Kepolisian jika keberadaan pedagang uang sampai mengganggu pengguna jalan.
"Nanti kalau misalkan ada kejadian yang sudah masif dan mengganggu lalu lintas, mungkin BI akan meminta Satpol PP dan Kepolisian untuk bersiap menertibkan karena mengganggu jalan," katanya
Pewarta : Aris Wasita
Editor : Teguh Imam Wibowo
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Jokowi jalani pemeriksaan di Polresta Surakarta terkait tudingan ijazah palsu
11 February 2026 20:53 WIB
Undip-Poltekkes Surakarta-Thailand kembangkan telapak kaki palsu Indonesia
30 December 2025 21:42 WIB
Polda Jateng sita ribuan tas dan sandal bermerek Eiger palsu di Surakarta
11 November 2025 16:15 WIB
Terpopuler - Makro
Lihat Juga
Wagub : Pertumbuhan ekonomi Jateng tekan pengangguran dan angka kemiskinan
08 February 2026 5:51 WIB
HNSI Jatim ingatkan pengembangan energi pesisir harus cegah de-nelayanisasi
22 January 2026 3:13 WIB