Orang tua dan guru harus bangun komunikasi demi sukseskan PTM
Senin, 30 Agustus 2021 14:22 WIB
Kondisi pembelajaran tatap muka (PTM) yang digelar di SD 11 Grogol Jakarta Barat, Senin, (30/8/2021). ANTARA/Walda/am.
Semarang (ANTARA) - Pembelajaran tatap muka (PTM) di masa pandemi menuntut kerja sama yang baik antara guru dan pengelola sekolah dengan orang tua murid.
"Di kawasan sekolah para guru dan pengelola sekolah menjadi penanggung jawab pelaksanaan belajar mengajar dengan protokol kesehatan yang ketat. Namun, di rumah, dalam perjalanan berangkat dan pulang sekolah keselamatan siswa sepenuhnya menjadi tanggung jawab orang tua murid," kata Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat dalam keterangan tertulisnya, Senin (30/8).
Di Kota Semarang, pada 30 Agustus 2021 sebanyak 442 SD dan SMP mulai menyelenggarkan PTM dengan protokol kesehatan ketat.
Pada hari sama, sebanyak 610 sekolah di DKI Jakarta melaksanakan pembelajaran tatap muka dengan menerapkan protokol kesehatan yang ketat.
Menurut Lestari, dalam pelaksanaan PTM di masa pandemi COVID-19 ini perlu dipikirkan langkah yang tepat untuk memastikan keamanan siswa saat berangkat dan pulang sekolah.
Selain itu, tambah Rerie, sapaan akrab Lestari, keterbukaan setiap keluarga terhadap guru dan pengelola sekolah juga harus ditingkatkan.
Sebagai misal, jelas Rerie, bila ada anggota keluarga yang terpapar COVID-19 bisa segera diinformasikan kepada guru, agar siswa yang berstatus kontak erat dari keluarga yang terpapar COVID-19 tersebut tidak perlu berangkat ke sekolah.
Komunikasi yang baik antara orang tua dan guru, ujar anggota Majelis Tinggi Partai NasDem itu, bisa juga dimanfaatkan untuk memperluas cakupan vaksinasi COVID-19 bila ada keluarga yang belum mendapatkan vaksin COVID-19.
Berbagai upaya dalam membangun komunikasi yang baik antara orang tua murid dan guru, tegas Rerie, harus terus dilakukan secara konsisten agar pelaksanaan PTM di masa pandemi COVID-19 bisa berjalan sesuai dengan rencana.
Jadi, ujar Rerie, yang juga anggota Komisi X DPR RI dari Dapil II Jawa Tengah itu, dilaksanakannya PTM bukan berarti tanggung jawab orang tua berkurang, tetapi justru harus lebih intensif dalam mengawasi putra-putri mereka.
Berbagai upaya tersebut, jelas Rerie, merupakan bagian dari upaya adaptasi untuk menekan potensi learning loss yang mengancam para siswa di masa pandemi ini.***
"Di kawasan sekolah para guru dan pengelola sekolah menjadi penanggung jawab pelaksanaan belajar mengajar dengan protokol kesehatan yang ketat. Namun, di rumah, dalam perjalanan berangkat dan pulang sekolah keselamatan siswa sepenuhnya menjadi tanggung jawab orang tua murid," kata Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat dalam keterangan tertulisnya, Senin (30/8).
Di Kota Semarang, pada 30 Agustus 2021 sebanyak 442 SD dan SMP mulai menyelenggarkan PTM dengan protokol kesehatan ketat.
Pada hari sama, sebanyak 610 sekolah di DKI Jakarta melaksanakan pembelajaran tatap muka dengan menerapkan protokol kesehatan yang ketat.
Menurut Lestari, dalam pelaksanaan PTM di masa pandemi COVID-19 ini perlu dipikirkan langkah yang tepat untuk memastikan keamanan siswa saat berangkat dan pulang sekolah.
Selain itu, tambah Rerie, sapaan akrab Lestari, keterbukaan setiap keluarga terhadap guru dan pengelola sekolah juga harus ditingkatkan.
Sebagai misal, jelas Rerie, bila ada anggota keluarga yang terpapar COVID-19 bisa segera diinformasikan kepada guru, agar siswa yang berstatus kontak erat dari keluarga yang terpapar COVID-19 tersebut tidak perlu berangkat ke sekolah.
Komunikasi yang baik antara orang tua dan guru, ujar anggota Majelis Tinggi Partai NasDem itu, bisa juga dimanfaatkan untuk memperluas cakupan vaksinasi COVID-19 bila ada keluarga yang belum mendapatkan vaksin COVID-19.
Berbagai upaya dalam membangun komunikasi yang baik antara orang tua murid dan guru, tegas Rerie, harus terus dilakukan secara konsisten agar pelaksanaan PTM di masa pandemi COVID-19 bisa berjalan sesuai dengan rencana.
Jadi, ujar Rerie, yang juga anggota Komisi X DPR RI dari Dapil II Jawa Tengah itu, dilaksanakannya PTM bukan berarti tanggung jawab orang tua berkurang, tetapi justru harus lebih intensif dalam mengawasi putra-putri mereka.
Berbagai upaya tersebut, jelas Rerie, merupakan bagian dari upaya adaptasi untuk menekan potensi learning loss yang mengancam para siswa di masa pandemi ini.***
Pewarta : Zaenal
Editor : Achmad Zaenal M
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Pemkab Boyolali ajak masyarakat terapkan prokes selama liburan akhir tahun
27 December 2022 9:41 WIB, 2022
Cegah COVID-19, Dinkes Boyolali ingatkan masyarakat jaga prokes selama liburan Natal
20 December 2022 8:50 WIB, 2022
Jelang libur Natal, Pemkot Pekalongan ingatkan warga tetap jaga prokes
08 December 2022 15:09 WIB, 2022
Universitas Muria Kudus terapkan kuliah tatap muka secara penuh dengan prokes ketat
18 November 2022 13:52 WIB, 2022
Dinkes Boyolali minta masyarakat waspadai pergerakan naiknya kasus COVID-19
15 November 2022 14:07 WIB, 2022
Hari Kesehatan Nasional, Dinkes Boyolali ingatkan masyarakat tetap terapkan prokes
09 November 2022 8:56 WIB, 2022
Asa berantas stunting di tengah kebiasaan menjaga prokes selama pandemi
21 October 2022 17:18 WIB, 2022
Terpopuler - Pendidikan
Lihat Juga
Program unggulan KKN MIT 21 UIN Walisongo Landmark Plumbon Desa Santri diluncurkan
25 February 2026 13:45 WIB
KKN MMK Posko 4 UIN Walisongo gelar pelatihan public speaking di SMA NU Kejajar
25 February 2026 13:34 WIB
UIN Walisongo dan Konsulat Jenderal Australia Surabaya perkuat kolaborasi akademik internasional
25 February 2026 11:09 WIB
DPD minta perketat pengawasan pascastudi penerima LPDP yang kuliah di luar negeri
25 February 2026 8:35 WIB