Jakarta (ANTARA) - Koordinator Bidang Mitigasi Gempa bumi dan Tsunami Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Daryono menyatakan gempa di luar zona subduksi (zona outer rise) juga dapat memicu terjadinya tsunami.

"Sumber gempa outer rise memang kalah populer jika dibandingkan dengan zona sumber gempa megathrust. Meskipun kurang populer, sumber gempa ini tidak kalah berbahaya karena dapat memicu terjadinya tsunami, karena sumber gempa ini berada di dasar laut, sehingga patut diwaspadai," kata Daryono di Jakarta, Sabtu.

Sebelumnya terjadi Gempa Nias dengan magnitudo 6,7 pada Jumat (14/5) yang berpusat pada sumber gempa di luar zona subduksi atau yang populer di kalangan para ahli disebut sebagai zona outer rise.

Gempa dahsyat yang memicu tsunami umumnya disebabkan oleh adanya deformasi batuan pada sistem subduksi dangkal, tepatnya di bidang kontak antar lempeng (zona megathrust).

Di zona ini energi elastik dapat terakumulasi maksimum akibat adanya pertemuan atau tumbukan antar lempeng yang kemudian dilepaskan secara tiba-tiba saat terjadi gempa.

Gaya tektonik yang bekerja pada sumber gempa di luar zona subduksi ini bukan kompresional atau menekan, tapi gaya ektensional atau tarikan, karena outer rise merupakan zona bending (regangan) pada slab lempeng yang membengkok sebelum kemudian menujam ke bawah lempeng lain.

Gempa-gempa di zona outer rise ini memiliki mekanisme sumber sesar turun (normal fault) yang menguatkan dan menjadi bukti bahwa gempa yang terjadi memang bersumber di zona deformasi akibat adanya gaya tarikan atau regangan yang selama ini terakumulasi maksimum.



Di Indonesia, sumber gempa outer rise yang aktif banyak terdapat di luar sistem subduksi Sunda yang tersebar di Samudra Hindia barat Sumatera, Selatan Jawa, hingga selatan Bali hingga NTB.

Sejumlah gempa signifikan yang bersumber dari sumber gempa di luar zona subduksi yaitu, Gempa selatan Jawa berkekuatan M 7,5 yang memicu tsunami di selatan Jawa pada 11 September 1921. Gempa selatan Sumbawa berkekuatan M8,3 yang memicu tsunami destruktif di selatan Sumbawa pada 19 Agustus 1977.

Selanjutnya Gempa selatan Bali berkekuatan M6,0 pada 9 Juni 2016 yang mengguncang Pulau Bali.Gempa selatan Jawa Barat M5,1 pada 15 Juli 2016 yang mengguncang pesisir selatan Jawa Barat.Gempa Bengkulu dan Lampung berkekuatan M 5,4 yang mengguncang pesisir Bengkulu hingga lampung pada 23 Juli 2016.

Kemudian Gempa selatan Bali berkekuatan M5,3 yang mengguncang Bali Selatan pada 17 Maret 2017. Gempa selatan Bali berkekuatan M5,1 yang mengguncang Bali Selatan pada 9 Juni 2019. Gempa selatan Bali berkekuatan M6,5 pada 19 Maret 2020 yang dirasakan hampir di seluruh Bali dan Lombok dengan skala intensitas mencapai IV MMI.

Serta Gempa Nias berkekuatan M6,7 pada 14 Mei 2021 yang dirasakan di Pulau Nias, Sumatera Utara, Aceh dan Sumatra Barat. Gempa Nias kemarin adalah gempa ke-3 dari gempa signifikan yang terjadi sebelumnya, yaitu pada 19 April 2021 berkekuatan M6,0 dan pada 14 April 2021 berkekuatan M5,6.


Baca juga: BMKG Banjarnegara kembangkan aplikasi sirine tsunami berbasis android
 

Pewarta : Desi Purnamawati
Editor : Achmad Zaenal M
Copyright © ANTARA 2024