Ruwat Rawat Borobudur cara tepat lestarikan Borobudur
Sabtu, 9 Februari 2019 18:01 WIB
Direktur Jenderal Kebudayaan Hilmar Farid (tiga dari kanan) membagikan paket sayuran kepada seniman pada Ruwat Rawat Borobudur, Sabtu (9/2) (Foto: Heru Suyitno)
Magelang (Antaranews Jateng) - Kegiatan budaya masyarakat, Ruwat Rawat Borobudur, salah satu cara tepat dalam pelestarian Candi Borobudur, kata Direktur Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Hilmar Farid.
"Saya tegaskan Ruwat Rawat Borobudur ini cara pelestarian yang benar, sepenuh hati menghayati warisan budaya kemudian merespons dengan berbagai bentuk kesenian dan kegiatan lain bertujuan untuk pelestarian Candi Borobudur," katanya di Magelang, Sabtu.
Ia menyampaikan hal tersebut pada pembukaan acara Dwi Windu Ruwat Rawat Borobudur, di pelataran Candi Borobudur sisi barat.
"Saya sangat bangga kegiatan pelestarian ini dijalankan dengan sungguh-sungguh, mandiri, dan swadaya. Hal ini menjadi kebahagian tersendiri bahwa program pelestarian bisa berjalan di lapangan seperti ini," katanya.
Ia menuturkan tentu tugas pemerintah adalah mendukung agar kegiatan ini bisa terwujud dengan baik.
"Dalam kesempatan ini saya menyampaikan bahwa akan ada bantuan rutin setiap tahun yang diberikan kepada kegiatan Ruwat Rawat Borobudur ini dan nanti yang mengurusi Balai Pelestarian Nilai Budaya Yogyakarta," katanya.
Ia mengatakan pelestarian berbasis komunitas ini secara konsisten diselenggarakan dan sekarang memasuki tahun ke-16 dan kegiatan ini bukan hanya melibatkan masyarakat sekitar Borobudur, tetapi juga ada dari Bandung, Kalimantan, dan lainnya.
"Kami di Kemendikbud sangat mendukung kegiatan pelestarian yang berbasis komunitas, tidak melulu itu jadi urusan kantor-kantor pemerintah, tetapi masyarakat dengan caranya sendiri ikut melakukan kegiatan pelestarian ini," katanya.
Ia menyampaikan lebih jauh dari itu, ruwat rawat itu juga menarik, latar belakangnya beragam datang dari berbagai tempat, pekerjaan, agama, dan etnik.
"Bagi kami, hal ini merupakan wujud nyata dari konsep Bhinneka Tunggal Ika," katanya.
Ketua Brayat Panangkaran sebagai pencetus Ruwat Rawat Borobudur, Sucoro, mengatakan para seniman yang terlibat dalam Ruwat Rawat Borobudur adalah para petani yang sekarang sedang berduka, karena harga sayuran murah.
Ia menuturkan dalam kegiatan Ruwat Rawat Borobudur ini juga dibagikan sayuran kepada masyarakat sebanyak 1,5 ton sumbangan dari salah satu seniman.
"Saya tegaskan Ruwat Rawat Borobudur ini cara pelestarian yang benar, sepenuh hati menghayati warisan budaya kemudian merespons dengan berbagai bentuk kesenian dan kegiatan lain bertujuan untuk pelestarian Candi Borobudur," katanya di Magelang, Sabtu.
Ia menyampaikan hal tersebut pada pembukaan acara Dwi Windu Ruwat Rawat Borobudur, di pelataran Candi Borobudur sisi barat.
"Saya sangat bangga kegiatan pelestarian ini dijalankan dengan sungguh-sungguh, mandiri, dan swadaya. Hal ini menjadi kebahagian tersendiri bahwa program pelestarian bisa berjalan di lapangan seperti ini," katanya.
Ia menuturkan tentu tugas pemerintah adalah mendukung agar kegiatan ini bisa terwujud dengan baik.
"Dalam kesempatan ini saya menyampaikan bahwa akan ada bantuan rutin setiap tahun yang diberikan kepada kegiatan Ruwat Rawat Borobudur ini dan nanti yang mengurusi Balai Pelestarian Nilai Budaya Yogyakarta," katanya.
Ia mengatakan pelestarian berbasis komunitas ini secara konsisten diselenggarakan dan sekarang memasuki tahun ke-16 dan kegiatan ini bukan hanya melibatkan masyarakat sekitar Borobudur, tetapi juga ada dari Bandung, Kalimantan, dan lainnya.
"Kami di Kemendikbud sangat mendukung kegiatan pelestarian yang berbasis komunitas, tidak melulu itu jadi urusan kantor-kantor pemerintah, tetapi masyarakat dengan caranya sendiri ikut melakukan kegiatan pelestarian ini," katanya.
Ia menyampaikan lebih jauh dari itu, ruwat rawat itu juga menarik, latar belakangnya beragam datang dari berbagai tempat, pekerjaan, agama, dan etnik.
"Bagi kami, hal ini merupakan wujud nyata dari konsep Bhinneka Tunggal Ika," katanya.
Ketua Brayat Panangkaran sebagai pencetus Ruwat Rawat Borobudur, Sucoro, mengatakan para seniman yang terlibat dalam Ruwat Rawat Borobudur adalah para petani yang sekarang sedang berduka, karena harga sayuran murah.
Ia menuturkan dalam kegiatan Ruwat Rawat Borobudur ini juga dibagikan sayuran kepada masyarakat sebanyak 1,5 ton sumbangan dari salah satu seniman.
Pewarta : Heru Suyitno
Editor : M Hari Atmoko
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Dinkes Kudus mencatat hanya tersisa dua siswa SMA Negeri 2 yang masih rawat inap
03 February 2026 11:30 WIB
Dinkes: Mayoritas siswa SMAN 2 Kudus yang rawat inap sudah sembuh dan diperbolehkan pulang
02 February 2026 9:35 WIB
Hasil observasi tim medis puluhan siswa SMA 2 Kudus yang diduga keracunan MBG harus jalani rawat inap
30 January 2026 11:00 WIB
Rawat inap tanpa cemas biaya: Agung syukuri perlindungan JKN untuk keluarganya
21 November 2025 18:41 WIB
Terpopuler - Seni dan Budaya
Lihat Juga
Balefest 2025 Suarasa Balekambang siap hibur masyarakat pada pergantian tahun
08 December 2025 19:39 WIB
Kaligrafi China dan Arab berpadu dalam pameran Tiongkok-Indonesia di Banyumas
25 November 2025 14:41 WIB
Sumanto ajak masyarakat pahami pesan moral dalam lakon Wayang Kulit Kresna Duta
21 November 2025 17:27 WIB