Ma'ruf Amin: 212 berubah jadi gerakan politik
Selasa, 5 Februari 2019 21:04 WIB
Calon Wakil Presiden Kiai Haji Ma'ruf Amin saat bersilaturahim dengan Para Kiai dan Tokoh Nahdlatul Ulama Se-Jawa Tengah Bagian Utara, Selasa (5/2). (Foto: Wisnu Adhi)
Semarang (Antaranews Jateng) - Calon Wakil Presiden Kiai Haji Ma'ruf Amin menyebut gerakan yang awalnya untuk penegakan hukum dan dinamai 212, saat ini sudah berubah menjadi gerakan politik.
"212 tadinya untuk penegakan hukum kasus penodaan agama, tapi sekarang gerakan politik," katanya saat bersilaturahim dengan Para Kiai dan Tokoh Nahdlatul Ulama Se-Jawa Tengah Bagian Utara di Semarang, Selasa.
Menurut dia, setelah pelaku kasus penodaan agama dijatuhi hukuman, maka gerakan 212 dinyatakan selesai, tetapi kemudian justru muncul gerakan Persatuan Alumni 212 dan Gerakan Nasional Pengawal Fatwa MUI juga diubah diganti menjadi GNPF Ulama.
"Gerakan PA 212 dan GNPF Ulama sudah tidak ada kaitannya penegakan hukum, tapi gerakan politik dan menggunakan pilpres sebagai kendaraan politik mereka," ujarnya.
Saat dikonfirmasi usai acara, mantan Ketua MUI itu mengaku tidak mempermasalahkan jika gerakan 212 dihidupkan kembali asal hanya untuk ajang silaturahim.
"Kalau dihidupkan untuk silaturahim tidak masalah, asal jangan yang lain," katanya.
Dalam kesempatan tersebut, Ma'ruf Amin mengatakan bahwa Pilpres 2019 bukan mengenai memenangkan posisi capres dan cawapres saja, namun juga pertarungan antarideologi.
Oleh karena itu, dirinya mengimbau kalangan Nahdlatul Ulama tetap solid yang diwujudkan dengan satu suara mendukung pasangan calon presiden dan wakil presiden yang sudah pasti bakal menjaga keberlangsungan NU itu sendiri.
"Saya mohon doa dan dukungan seluruh jajaran NU untuk mendukung dan memenangkan pilpres yang akan datang," ujarnya.
"212 tadinya untuk penegakan hukum kasus penodaan agama, tapi sekarang gerakan politik," katanya saat bersilaturahim dengan Para Kiai dan Tokoh Nahdlatul Ulama Se-Jawa Tengah Bagian Utara di Semarang, Selasa.
Menurut dia, setelah pelaku kasus penodaan agama dijatuhi hukuman, maka gerakan 212 dinyatakan selesai, tetapi kemudian justru muncul gerakan Persatuan Alumni 212 dan Gerakan Nasional Pengawal Fatwa MUI juga diubah diganti menjadi GNPF Ulama.
"Gerakan PA 212 dan GNPF Ulama sudah tidak ada kaitannya penegakan hukum, tapi gerakan politik dan menggunakan pilpres sebagai kendaraan politik mereka," ujarnya.
Saat dikonfirmasi usai acara, mantan Ketua MUI itu mengaku tidak mempermasalahkan jika gerakan 212 dihidupkan kembali asal hanya untuk ajang silaturahim.
"Kalau dihidupkan untuk silaturahim tidak masalah, asal jangan yang lain," katanya.
Dalam kesempatan tersebut, Ma'ruf Amin mengatakan bahwa Pilpres 2019 bukan mengenai memenangkan posisi capres dan cawapres saja, namun juga pertarungan antarideologi.
Oleh karena itu, dirinya mengimbau kalangan Nahdlatul Ulama tetap solid yang diwujudkan dengan satu suara mendukung pasangan calon presiden dan wakil presiden yang sudah pasti bakal menjaga keberlangsungan NU itu sendiri.
"Saya mohon doa dan dukungan seluruh jajaran NU untuk mendukung dan memenangkan pilpres yang akan datang," ujarnya.
Pewarta : Wisnu Adhi Nugroho
Editor : M Hari Atmoko
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
UMS perkuat silaturahmi mahasiswa asing lewat jamuan makan bersama rektor
25 December 2025 16:44 WIB
DPC Peradi Kota Semarang silaturahmi dengan PN Semarang, siap saling sinergi
19 December 2025 11:03 WIB
Paguyuban Purna Tugas UMS gelar kajian dan silaturahmi untuk rajut kekeluargaan
06 September 2025 17:48 WIB
Terpopuler - Politik dan Hankam
Lihat Juga
Kemenkum Jateng verifikasi permohonan warga Indonesia dari WNA asal Yaman
09 February 2026 16:28 WIB