Banyak orang beralih ke "Dr Google" dibanding berkunjung ke dokter
Selasa, 18 Desember 2018 9:35 WIB
Google (Pixabay/Photo-Mix)
Jakarta (Antaranews Jateng) – Internet memudahkan setiap orang mendapat informasi atau dikenal dengan istilah "googling", termasuk mencari tahu soal gejala penyakit.
Bahkan, kini banyak orang beralih ke “Dr. Google” untuk mendapatkan nasihat medis dibanding berkunjung ke dokter, menurut ahli kesehatan.
Dikutip dari dpa, Selasa, pada pertemuan kesehatan baru-baru ini di Hannover, Jerman, Martina Wenker dari asosiasi medis negara bagian untuk Lower Saxony (AEKN) mengatakan, "Akses informasi medis yang konstan dari pelbagai tingkat akurasi di internet sangat menganggu bagi banyak pasien."
Konferensi ini mempertemukan para profesional medis, politisi, pebisnis, dan tokoh masyarakat untuk mendiskusikan digitalisasi dalam perawatan kesehatan.
Wenker menunjuk pada "cyberchondria", ketakutan tak berdasar tentang penyakit serius setelah meneliti gejala di internet.
Penelitian telah menunjukkan bahwa penelitian sejenis itu memperkuat ketakutan orang-orang yang cenderung hipokondria.
"Kami para dokter harus mengatasi ketakutan pasien ini dengan serius dan memilah informasi yang tepat bagi mereka, yang terbauk dilakukan dalam komunikasi tatap muka antar dokter dan pasien," katanya.
Menurut penelitian yang dipublikasikan pada awal tahun ini oleh Bertelsmann Stiftung, yayasan swasta Jerman, separuh dari semua pengguna internet Jerman melakukan penelitian daring tentang topik kesehatan setidaknya sebulan sekali -- 58 persen sebelum kunjungan dokter dan 62 persen setelah menerima dokter diagnosa.
Lebih dari setengah dari mereka yang disurvei mengatakan bahwa mereka "umumnya atau selalu puas" dengan hasil penelitian, sementara 44 persen mengatakan mereka "kadang-kadang puas."
"Dalam pandangan kami, kemungkinan, dan manfaat dari internet lebih besar daripada bahaya yang mengintai," kata Marion Grote-Westrick, yang memimpin penelitian itu, mengatakan kepada dpa, menambahkan dokter harus menyediakan informasi lebih banyak kepada pasien dan ditautkan dengan situs web berbasis sains.
Ia menambahkan, "Kami mendesak bahwa informasi yang dapat dipercaya seperti ini, termasuk video, disimpan dalam file pasien di masa depan."
Dia mengatakan bahwa bantuan keputusan standar untuk membantu pasien memilih antara alternatif pengobatan juga diperlukan.
Bahkan, kini banyak orang beralih ke “Dr. Google” untuk mendapatkan nasihat medis dibanding berkunjung ke dokter, menurut ahli kesehatan.
Dikutip dari dpa, Selasa, pada pertemuan kesehatan baru-baru ini di Hannover, Jerman, Martina Wenker dari asosiasi medis negara bagian untuk Lower Saxony (AEKN) mengatakan, "Akses informasi medis yang konstan dari pelbagai tingkat akurasi di internet sangat menganggu bagi banyak pasien."
Konferensi ini mempertemukan para profesional medis, politisi, pebisnis, dan tokoh masyarakat untuk mendiskusikan digitalisasi dalam perawatan kesehatan.
Wenker menunjuk pada "cyberchondria", ketakutan tak berdasar tentang penyakit serius setelah meneliti gejala di internet.
Penelitian telah menunjukkan bahwa penelitian sejenis itu memperkuat ketakutan orang-orang yang cenderung hipokondria.
"Kami para dokter harus mengatasi ketakutan pasien ini dengan serius dan memilah informasi yang tepat bagi mereka, yang terbauk dilakukan dalam komunikasi tatap muka antar dokter dan pasien," katanya.
Menurut penelitian yang dipublikasikan pada awal tahun ini oleh Bertelsmann Stiftung, yayasan swasta Jerman, separuh dari semua pengguna internet Jerman melakukan penelitian daring tentang topik kesehatan setidaknya sebulan sekali -- 58 persen sebelum kunjungan dokter dan 62 persen setelah menerima dokter diagnosa.
Lebih dari setengah dari mereka yang disurvei mengatakan bahwa mereka "umumnya atau selalu puas" dengan hasil penelitian, sementara 44 persen mengatakan mereka "kadang-kadang puas."
"Dalam pandangan kami, kemungkinan, dan manfaat dari internet lebih besar daripada bahaya yang mengintai," kata Marion Grote-Westrick, yang memimpin penelitian itu, mengatakan kepada dpa, menambahkan dokter harus menyediakan informasi lebih banyak kepada pasien dan ditautkan dengan situs web berbasis sains.
Ia menambahkan, "Kami mendesak bahwa informasi yang dapat dipercaya seperti ini, termasuk video, disimpan dalam file pasien di masa depan."
Dia mengatakan bahwa bantuan keputusan standar untuk membantu pasien memilih antara alternatif pengobatan juga diperlukan.
Pewarta : Anggarini Paramita
Editor : Totok Marwoto
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Sosialisasi parenting mahasiswa KKN-Dik FKIP UMS dorong sinergi orang tua dan sekolah dalam mendidik anak
12 February 2026 18:07 WIB
Polres Jepara selidiki kasus kematian enam orang usai mengkonsumsi miras oplosan
11 February 2026 12:55 WIB
Temu wali mahasiswa PGSD UMS, dorong peran orang tua pantau prestasi akademik
15 January 2026 18:10 WIB
Dinkes: 658 orang di Kabupaten Grobogan diduga terdampak keracunan MBG di sejumlah sekolah
11 January 2026 20:48 WIB
Jumlah wisatawan di objek wisata Jateng saat Natal-tahun baru capai 4,39 juta orang
05 January 2026 22:15 WIB
Terpopuler - Seni dan Budaya
Lihat Juga
Balefest 2025 Suarasa Balekambang siap hibur masyarakat pada pergantian tahun
08 December 2025 19:39 WIB
Kaligrafi China dan Arab berpadu dalam pameran Tiongkok-Indonesia di Banyumas
25 November 2025 14:41 WIB
Sumanto ajak masyarakat pahami pesan moral dalam lakon Wayang Kulit Kresna Duta
21 November 2025 17:27 WIB