Wagub: Beda pilihan jangan jadi sebab permusuhan
Kamis, 13 September 2018 9:46 WIB
Calon Wakil Gubernur Jateng nomor urut 1 minta doa restu masyarakat Magelang pada syawalan akbar dan doa bersama Forum Silaturahmi Masyarakat Magelang. (Heru Suyitno)
Semarang (Antaranews Jateng) - Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen mengajak semua lapisan masyarakat berperan aktif menjaga kerukunan menjelang pelaksanaan Pemilu 2019.
"Pilihan yang berbeda, jangan menjadi sebab permusuhan," katanya di Semarang, Kamis.
Pria yang akrab disapa Gus Yasin itu meminta masyarakat, khususnya umat muslim untuk meneladani hijrahnya Nabi Muhammad SAW dari Mekah ke Madinah.
Menurut dia, salah satu teladan dari kisah itu adalah cara nabi dalam membangun keakraban antara kaum Muhajirin sebagai pendatang yang mengikuti hijrahnya, dan Anshar sebagai penduduk Madinah.
"Saat hijrah tersebut, Nabi Muhammad membangun tempat ibadah dan juga berdakwah, namun, nabi tidak pernah memaksakan penduduk Madinah untuk memeluk agama Islam," ujarnya.
Putra ulama karismatik KH Maimoen Zubaer itu berpendapat bahwa menentukan pemimpin juga harus seperti yang dilakukan Nabi Muhammad SAW.
"Berbeda pilihan tidak apa-apa, tapi jangan menjelek-jelekkan, apalagi membuka aib seseorang yang akan memimpin kita, itu tidak boleh," katanya.
Setiap orang, kata dia, tidak akan pernah tahu, siapa nanti yang bakal menjadi pemimpin karena hanya Tuhan yang mengetahuinya dan oleh sebab itu, masyarakat maupun pendukung salah satu pasangan calon pemimpin, tidak boleh saling menjelekkan.
"Bangsa Indonesia yang mayoritas penduduknya memeluk Islam, agama yang `rahmatan lil alamin` sehingga harus ditunjukkan dan jangan mudah diadu domba. Mari kita guyub bareng membangun Jateng," ujarnya.
"Pilihan yang berbeda, jangan menjadi sebab permusuhan," katanya di Semarang, Kamis.
Pria yang akrab disapa Gus Yasin itu meminta masyarakat, khususnya umat muslim untuk meneladani hijrahnya Nabi Muhammad SAW dari Mekah ke Madinah.
Menurut dia, salah satu teladan dari kisah itu adalah cara nabi dalam membangun keakraban antara kaum Muhajirin sebagai pendatang yang mengikuti hijrahnya, dan Anshar sebagai penduduk Madinah.
"Saat hijrah tersebut, Nabi Muhammad membangun tempat ibadah dan juga berdakwah, namun, nabi tidak pernah memaksakan penduduk Madinah untuk memeluk agama Islam," ujarnya.
Putra ulama karismatik KH Maimoen Zubaer itu berpendapat bahwa menentukan pemimpin juga harus seperti yang dilakukan Nabi Muhammad SAW.
"Berbeda pilihan tidak apa-apa, tapi jangan menjelek-jelekkan, apalagi membuka aib seseorang yang akan memimpin kita, itu tidak boleh," katanya.
Setiap orang, kata dia, tidak akan pernah tahu, siapa nanti yang bakal menjadi pemimpin karena hanya Tuhan yang mengetahuinya dan oleh sebab itu, masyarakat maupun pendukung salah satu pasangan calon pemimpin, tidak boleh saling menjelekkan.
"Bangsa Indonesia yang mayoritas penduduknya memeluk Islam, agama yang `rahmatan lil alamin` sehingga harus ditunjukkan dan jangan mudah diadu domba. Mari kita guyub bareng membangun Jateng," ujarnya.
Pewarta : Wisnu Adhi Nugroho
Editor : Mahmudah
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Pemprov Jateng pastikan kelayakan fasilitas di posko pengungsi bagi korban banjir
30 January 2026 9:05 WIB
Taj Yasin: Cegah banjir Juwana terulang segera dibangunkan tanggul penahan rob
22 January 2026 8:32 WIB
Wagub Jateng: Pimpinan daerah terapkan pakta integritas pelayanan masyarakat
21 January 2026 19:10 WIB
Taj Yasin menyerahkan surat tugas Plt Bupati Pati kepada Wakil Bupati Risma Ardhi
21 January 2026 15:17 WIB
Terpopuler - Politik dan Hankam
Lihat Juga
Kemenkum Jateng verifikasi permohonan warga Indonesia dari WNA asal Yaman
09 February 2026 16:28 WIB