Purwokerto, ANTARA JATENG - Rencana pembukaan jalur pelayaran perintis di perairan selatan Jawa diyakini akan meningkatkan perekonomian berbagai kota yang ada di pesisir selatan tersebut, kata Deputi Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Purwokerto Fadhil Nugroho.




"Oleh karena itu, kami bekerja sama dengan Kantor Perwakilan BI Jawa Tengah dan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah menggelar `focus group discussion (FGD)` tentang Pengembangan Pelayaran Perintis Pesisir Selatan Jawa," katanya usai kegiatan FGD di Kantor Perwakilan BI Purwokerto, Kabupaten Banyumas, Rabu.




Ia mengatakan ide dasar dari penyelenggaraan FGD tersebut, yakni terbukanya jalur pelayaran perintis di pesisir selatan Jawa yang akan menghubungkan Pelabuhan Tanjung Intan, Cilacap, Jateng, dengan kota-kota lain di pesisir selatan pulau itu, seperti Pacitan, Trenggalek, dan Banyuwangi, semuanya di Jawa Timur.




Bahkan, tidak menutup kemungkinan, jalur pelayaran perintis tersebut akan terhubung ke beberapa wilayah di Pulau Bali, seperti Benoa, Celukanbawang (Buleleng), dan Singaraja.




"Ide pengembangan angkutan laut perintis ini sebetulnya merupakan aspirasi dari tujuh bupati di pesisir selatan Pulau Jawa, yaitu Bupati Sukabumi, Bupati Pangandaran, Bupati Cilacap, Bupati Kulon Progo, Bupati Pacitan, Bupati Trenggalek, dan Bupati Banyuwangi yang merupakan anggota Apkasi (Asosiasi Pemerintah Kabupaten Seluruh Indonesia)," katanya.




Menurut dia, inisiasi tersebut mendapat respons positif dari Gubernur Jawa Tengah yang selanjutnya meminta agar dilakukan pengkajian yang lebih mendalam.




Lebih lanjut, Fadhil mengatakan FGD yang dilakukan pada Rabu (13/9) di Kantor Perwakilan Bank Indonesia Purwokerto merupakan kelanjutan dari FGD yang dilaksanakan di Kantor Dinas Perhubungan Provinsi Jawa Tengah pada tanggal 30 Agustus 2017.




Selain dihadiri perwakilan dari sejumlah dinas di lingkungan Pemprov Jateng, kata dia, FGD yang digelar di Kantor Perwakilan BI Purwokerto juga dihadiri perwakilan dari Kabupaten Cilacap, Purbalingga, Banjarnegara, dan Kebumen.




"FGD kali ini menitikberatkan pada identifikasi produk-produk unggulan di wilayah Barlingmascakeb (Banjarnegara, Purbalingga, Banyumas, Cilacap, dan Kebumen) yang memiliki peluang untuk diperdagangkan antarkota-kota yang terhubung dalam jalur pelayaran pesisir selatan," katanya.




Sementara dalam FGD, Fadhil berkesempatan memaparkan tentang perkembangan terkini perekonomian Kabupaten Cilacap, termasuk di dalamnya mengenai inflasi, pertumbuhan ekonomi, dan kegiatan ekspor.




Ia mengatakan berdasarkan data, sebagian besar kegiatan ekspor dari Cilacap didominasi oleh produk nonmigas yang mencapai 58 persen.




"Jika dilihat dari volumenya, sebagian besar ekspor didominasi oleh kayu olahan yang mencapai 46 persen dan `cement clinker` sebesar 31 persen," katanya.




Menurut dia, hasil perikanan tangkap di laut berupa ikan tuna, lobster, dan ubur-ubur juga merupakan produk unggulan Cilacap yang diekspor ke sejumlah negara.




Dalam FGD yang dipandu Kepala Bidang Pelayaran Dinas Perhubungan Provinsi Jawa Tengah Untung Sirinanto menghasilkan beberapa poin kesepakatan dan kesimpulan, antara lain infrastruktur di Pelabuhan Tanjung Intan, Cilacap, sudah sangat siap untuk melayani pelayaran di pesisir selatan Pulau Jawa.




Selain itu, Pemerintah Pusat juga telah siap mendanai pengadaan kapal pelayaran perintis yang menghubungkan kota-kota pelabuhan di pesisir selatan Pulau Jawa hingga Bali dan diharapkan sudah dapat diresmikan penggunaannya pada bulan Januari 2018.




Peserta FGD tersebut juga menyepakati penyelenggaraan diskusi lanjutan yang melibatkan para pengusaha di wilayah Barlingmascakeb untuk lebih memantapkan terealisasinya wacana pembukaan jalur pelayaran perintis di pesisir selatan Jawa.