"Ini menindaklanjuti instruksi dari Kapolri. Kaitannya dengan kewaspadaan ancaman teror terhadap jajaran kepolisian yang kemungkinan melalui makanan yang dicampur dengan racun sianida," kata Kepala Polres Magelang Kota AKBP Edi Purwanto di Magelang, Kamis.

Penyediaan makanan untuk para tahanan, petugas jaga dari Sabhara polres setempat, para siswa Secaba Polri yang menjalani program latihan kerja di kota setempat, dan anggota jaga di empat polsek setempat, katanya, setiap hari dilakukan melalui kerja sama kepolisian setempat dengan pihak ketiga.

Ia menjelaskan anggota kepolisian saat ini menjadi sasaran serangan kelompok teror karena selama ini Polri berhasil menggagalkan banyak aksi teror di berbagai daerah di Indonesia.

Edi mengemukakan adanya ancaman teror terhadap petugas kepolisian sebagai balasan mereka atas keberhasilan petugas menggagalkan aktivitas para teroris itu.

Ia menjelaskan pemeriksaan terhadap sampel makanan itu untuk meningkatkan kewaspadaan kepolisian terhadap ancaman teror yang setiap saat bisa saja terjadi di daerah setempat.

Pihaknya juga memperketat pengawasan terhadap masyarakat yang memasuki markas polres setempat. Petugas akan meminta kartu identitas warga dan memeriksa berbagai barang yang mereka bawa saat hendak masuk markas kepolisian setempat.

"Saat ini ditingkatkan. Pemeriksaan kepada masyarakat dengan barang bawaannya itu, sebenarnya sudah sejak lama diterapkan di Polres Magelang Kota ini," katanya.

Ia mengatakan bahwa pemeriksaan terhadap sampel makanan untuk tahanan, petugas jaga, dan para siswa Secaba yang praktik lapangan di daerah setempat, akan dilakukan secara berkala.

Petugas Laboratorium Kesehatan Dinkes Kota Magelang Joko Widodo menjelaskan pemeriksaan terhadap sampel makanan di polres setempat itu untuk memastikan bahwa menu makanan untuk mereka tidak membahayakan kesehatan manusia.

Ia mengatakan bahwa butuh waktu sekitar 10 hari untuk mendapatkan hasil uji sampel makanan yang diambil dari markas kepolisian setempat pada hari Kamis.