Mufid, salah satu nelayan rajungan dari Morodemak, Kabupaten Demak di Demak, Senin, mengaku masih tetap melaut meskipun terkadang gelombang laut cukup tinggi menyusul tiupan angin yang cukup kencang.

Musim timuran yang biasanya disertai dengan tiupan angin yang cukup kencang, kata dia, tidak membuat nelayan rajungan menghentikan aktivitasnya.

Terlebih, kata dia, saat ini para nelayan masih bisa mendapatkan hasil yang cukup menggemberikan, dibandingkan dengan musim timuran tahun lalu.

Sekali melaut, kata dia, masih bisa mendapatkan rajungan antara 12-13 kilogram.

"Kondisi tersebut berbeda jauh dengan periode yang sama tahun lalu sulit mendapatkan rajungan," ujarnya.

Meskipun hasil tangkapan nelayan rajungan sedikit, kata dia, harga jualnya justru turun.

Setiap kilogram, kata dia, hanya laku Rp45.000, sedangkan sebelumnya bisa mencapai Rp65.000.

Padahal, kata dia, biaya operasionalnya jauh lebih mahal karena harus menempuh perjalanan selama 2,5 jam.

Kondisi berbeda, kata dia, terjadi pada Januari, Februari, Maret, dan April karena dengan jarak tempuh sekitar 1,5 jam mendapatkan hasil tangkapan yang jauh lebih bagus.

Hanya saja, kata dia, periode tersebut sedang memasuki musim baratan yang biasanya gelombang laut cukup tinggi.

"Akan tetapi, hal itu tidak menjadi penghalang karena hasil tangkapannya justru cukup banyak karena sekali melaut dengan durasi waktu yang cukup pendek bisa mendapatkan 25 kg rajungan," ujarnya.
Terkait dengan turunnya harga jual rajungan, dia menduga karena turunnya permintaan ekspor komoditas tersebut.

Selama ini, kata dia, hasil tangkalan nelayan rajungan memang dibeli oleh eksportir sehingga harga jualnya juga disesuaikan dengan tingkat permintaan ekspor.

"Bisa saja, saat ini permintaan sedang lesu sehingga harga jual di tingkat nelayan juga ikut turun," ujarnya.