Logo Header Antaranews Jateng

Pasokan Ikan Sulit

Senin, 14 Januari 2013 08:09 WIB
Image Print
ilustrasi

"Kami sulit memperoleh ikan dari nelayan Cilacap maupun luar daerah, seperti wilayah pantura. Kalaupun ada, harganya naik sekitar 35 persen," kata Ketua PPTP Cilacap Karsidi, Senin.

Ia mengatakan kondisi tersebut tidak hanya dipengaruhi oleh cuaca buruk akibat adanya badai Narelle di Samudera Hindia barat daya Bali, tetapi juga pengaruh musim angin barat daya.

"Dengan kondisi angin yang seperti ini, angin barat daya, hasil tangkapan nelayan juga berkurang," kata dia.

Menurut dia, kadang ada nelayan yang nekat berangkat melaut pada dini hari di saat kondisi angin belum bertiup kencang dan kembali menjelang siang.

Akan tetapi, kata dia, nelayan yang berangkat melaut tersebut sering kali tidak mendapatkan hasil tangkapan karena tidak ada ikan di laut.

"Nelayan merugi karena perbekalan dengan pendapatan yang diperoleh tidak seimbang. Seolah-olah kondisi ini seperti masa paceklik," katanya.

Ia memperkirakan kondisi tersebut masih akan berlangsung hingga satu bulan ke depan atau hingga berakhirnya musim angin barat daya.

Terkait pasokan ikan yang dijual oleh pedagang, dia mengatakan, saat ini hanyalah ikan dari hasil pembesaran, seperti bandeng maupun ikan hasil memancing di Segara Anakan.

Sementara untuk kebutuhan rumah makan, kata dia, saat ini masih tersedia udang, bawal hitam, dan kepiting.

"Harga dari nelayan atau pedagang sudah naik, sehingga kami juga merasa tidak enak terhadap pelanggan. Padahal, kenaikan harga ini bukan karena pedagang, tetapi akibat kondisi angin," kata pemilik rumah makan masakan ikan laut itu.

Dalam hal ini, dia mencontohkan harga ikan bawal hitam yang biasanya diperoleh dengan harga Rp30 ribu per kilogram, sekarang naik menjadi Rp40 ribu/kg.

Demikian pula dengan udang yang biasanya berkisar Rp45 ribu-Rp50 ribu/kg, naik menjadi Rp60 ribu/kg.

"Kalau kondisinya sudah kembali normal, harga ikan bisa turun lagi karena pasokan dari nelayan tetap tersedia," katanya.



Pewarta:
Editor: M Hari Atmoko
COPYRIGHT © ANTARA 2026