Logo Header Antaranews Jateng

Kolombia akui kedaulatan Israel di Dataran Tinggi Golan

Selasa, 11 Agustus 2026 08:24 WIB
Image Print
Presiden terpilih Abelardo de la Espriella menerima selempang kepresidenan bermotif bendera Kolombia dalam upacara pelantikan di Carlos Andres Perez Galindo Arena, Universidad Santiago de Cali, di Cali, Kolombia, pada 7 Agustus 2026. ANTARA/Andres Acero - Anadolu Agency /pri.

Jakarta (ANTARA) - Kementerian Luar Negeri Kolombia, Senin (10/8), mengumumkan pengakuan negaranya terhadap kedaulatan Israel atas Dataran Tinggi Golan sehingga menjadikannya negara kedua di dunia setelah Amerika Serikat yang memberikan pengakuan.

“Mengingat ketidakstabilan regional yang sedang berlangsung di Timur Tengah dan pentingnya Dataran Tinggi Golan bagi keamanan Israel, pemerintah Kolombia mengakui kedaulatan Israel atas wilayah ini, serta hak negara untuk mempertahankan diri dari ancaman eksternal,” kata Kemlu Kolombia.

Keputusan tersebut dikeluarkan sesuai dengan kesepakatan antara Kolombia dan Israel pada 8 Agustus, sehari setelah pelantikan Presiden Abelardo de la Espriella, menurut kementerian tersebut.

Dataran Tinggi Golan adalah bagian dari Suriah hingga 1967.

Selama Perang Enam Hari, pasukan Israel menduduki wilayah ini, dan setelah Perang Yom Kippur (1973), para pihak mencapai kesepakatan mengenai gencatan senjata dan pemisahan kekuatan.

Pada 1974, pemelihara perdamaian PBB mulai ditugaskan di Dataran Tinggi Golan.

Kemudian pada Maret 2019, AS, di bawah kepemimpinan Presiden Donald Trump, secara resmi mengakui Dataran Tinggi Golan sebagai wilayah Israel.

Keputusan ini menandai pertama kalinya sebuah negara asing mengakui kedaulatan Israel atas wilayah tersebut.

Menyusul pengakuan AS pada 2019, mayoritas anggota Dewan Keamanan PBB menyatakan penyesalan atas keputusan tersebut dan menegaskan kembali pandangan mereka terhadap Dataran Tinggi Golan sebagai wilayah Suriah yang diduduki Israel.

Sumber: RIA Novosti/Sputnik



Pewarta:
Editor: Teguh Imam Wibowo
COPYRIGHT © ANTARA 2026