Logo Header Antaranews Jateng

Pembelajaran Bahasa Terjebak pada Konten

Rabu, 21 November 2012 08:15 WIB
Image Print
Sejumlah mahasiswa dan pelajar belajar bahasa inggeris di sebuah gubuk milik Kresna Language Center, Pare, Kediri, Jawa Timur, Jumat (6/1). Sekitar 20.000 pelajar dan mahasiswa dari berbagai daerah di Indonesia berada di kampung bahasa Pare - Kediri

"Pembelajaran bahasa sekarang ini cenderung terjebak pada menghafal konten, seperti istilah dan nama. Padahal, yang lebih penting sebenarnya 'skill' atau keterampilan berbahasa," katanya di Semarang, Rabu.

Ia mencontohkan pembelajaran bahasa Jawa di sekolah yang cenderung mengajak siswa untuk menghafalkan konten, antara lain tokoh pewayangan, nama senjata tokoh wayang, nama "kembang" (bunga) dalam bahasa Jawa.

Menurut dia, penghafalan konten semacam itu tetap penting untuk memperkaya pengetahuan dan kosakata, tetapi jangan kemudian justru lebih dipentingkan dibandingkan melatih keterampilan siswa dalam berbahasa.

"Kalau seperti ini, siswa kan jadi lebih sekadar menghafalkan nama tokoh pewayangan, senjatanya, dan sebagainya dibandingkan bagaimana terampil berbahasa," kata Wakil Rektor I IKIP PGRI Semarang tersebut.

Ngasbun yang juga Ketua Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Kota Semarang itu mengungkapkan pembelajaran konten sebenarnya cukup dengan mendorong siswa untuk mengeksplorasi dan jangan jadi muatan kurikulum.

Dalam pembelajaran bahasa, kata dia, ada empat kemampuan yang perlu dikuasai siswa, yakni mampu mendengarkan atau menyimak, mampu berbicara, mampu membaca, dan mampu menulis dalam bahasa yang diajarkan.

"Untuk konten pewayangan, dan sebagainya dalam pembelajaran bahasa Jawa misalnya, biarkan siswa mengeksplorasi sendiri. Sebab, pembelajaran bahasa kan tidak untuk menjadikan semua siswa menjadi pakar," katanya.

Berkaitan dengan itu, ia mengakui materi pembelajaran yang termuat dalam kurikulum pendidikan di Indonesia selama ini memang terlalu memberatkan untuk siswa sehingga mengubah orientasi belajar anak-anak didik.

"Orientasi belajar siswa akhirnya lebih berat ke pembelajaran konten semata. Sementara, kemampuan-kemampuan yang lain, seperti menganalisis, memilih, dan mencermati menjadi kurang dianggap penting," katanya.

Penilaian bobot kurikulum pendidikan di Indonesia yang terlalu tinggi pun diakui mahasiswa Malaysia program pertukaran pelajar IKIP PGRI Semarang yang praktik mengajar di SMA Negeri 1 dan SMA Negeri 3 Semarang.

"Sebagai pendamping, saya menanyakan kesulitan selama praktik mengajar. Di luar dugaan, mereka menjawab bobot materinya terlalu tinggi. Kalau soal penyesuaian budaya dan pergaulan, mereka bisa mengatasi," kata Ngasbun.



Pewarta:
Editor: Mahmudah
COPYRIGHT © ANTARA 2026