
Hewan Kurban Bebas Penyakit Zoonosis

"Berdasarkan evaluasi kami, yang menonjol adalah penyakit cacing hati. Kalau penyakit lainnya, tidak ada," kata Kepala Dintankannak Banjarnegara Dwi Atmadji di Banjarnegara, Selasa.
Selama Hari Raya Idul Adha, kata dia, pihaknya telah memantau kondisi hewan kurban sebelum dan setelah dipotong.
Lebih lanjut mengenai pemantauan hewan kurban, Kepala Bidang Peternakan Dintankannak Banjarnegara Siti Maechasoh mengatakan, dalam pemeriksaan "ante-mortem" yang dilakukan sebelum pemotongan hewan kurban, pihaknya telah mengeluarkan surat keterangan sehat untuk sekitar 2.000 ekor sapi.
"Dalam pemantauan tersebut, hewan-hewan yang terlihat sakit, langsung kami minta diobati agar sembuh. Kami juga menemukan seekor sapi yang ada gatal-gatal di sekitar matanya," kata dia menambahkan.
Menurut dia, pihaknya meminta agar sapi tersebut dipisahkan dari sapi lainnya.
Ia mengatakan, hewan kurban di Banjarnegara secara keseluruhan memenuhi persyaratan seperti usia, bobot, dan kesehatan.
Sementara dalam pemeriksaan "post-mortem" yang dilakukan setelah hewan kurban tersebut dipotong, kata dia, pihaknya menemukan beberapa ekor sapi yang berpenyakit cacing hati sebagian.
"Setelah cacingnya disingkirkan atau dibuang, hati tersebut bisa dikonsumsi," kata dia tanpa menyebutkan jumlah sapi yang menderita cacing hati.
Disinggung mengenai jumlah hewan yang dikurbankan selama Idul Adha di Banjarnegara, dia mengatakan, hingga saat ini masih didata karena laporan dari kecamatan belum masuk semua.
"Berdasarkan data terakhir yang kami catat, jumlah sapi yang dikurbankan sebanyak 3.154 ekor, kambing 2.567 ekor, dan domba 873 ekor. Data tersebut masih sementara, karena belum seluruhnya masuk," kata dia menjelaskan.
Pewarta: Sumarwoto
Editor:
Mahmudah
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
