Logo Header Antaranews Jateng

Puluhan Siswa SD Gelar "Tawur Budaya" Kritik Tawuran

Senin, 29 Oktober 2012 18:38 WIB
Image Print
ilustrasi

"Tawur Budaya" yang dilakukan para siswa kelas V SD itu, yakni memainkan sejumlah kesenian tradisional, seperti Tari Saman dari Aceh dan tarian dari Papua yang dikolaborasi dengan kesenian pop mancanegara.

"Gangnam Style", kesenian pop dari Korea Selatan yang dipilih untuk berpadu dengan aksi anak-anak itu memainkan kesenian tradisional, diramaikan tokoh-tokoh punakawan yang diperankan juga oleh para siswa.

Menurut Kepala SD Juara Semarang Joko Kristianto, di sela aksi itu, mengatakan, pergelaran "Tawur Budaya" itu ditujukan agar anak-anak memiliki rasa sensitivitas terhadap berbagai persoalan bangsa ini.

"Banyak sekali permasalahan yang dihadapi bangsa sekarang ini, mulai tawuran pelajar, korupsi, dan kriminalitas. Dari berbagai banyak persoalan itu, kami pilih tawuran karena lebih 'dekat' dengan pelajar," katanya.

Guru pendidikan dan kewarganegaraan (PKn) SD Juara itu menilai tawuran sekarang ini seakan sudah membudaya, terutama di kalangan pelajar sehingga perlu "counter" (perlawanan) yang dilakukan sejak dini.

Ia mengatakan perlawanan terhadap "budaya" tawuran bisa dilakukan dengan banyak cara, seperti penanaman empati, budi pekerti, tetapi yang tak kalah penting adalah pembelajaran praktik kepada siswa langsung.

"Dengan kegiatan ini, anak-anak kami ajak untuk melawan budaya tawuran. Daripada tawuran, lebih baik 'tawur budaya', bagaimana kebudayaan tradisional harus bersaing dengan kebudayaan asing yang masuk," katanya.

Dari kegiatan "tawur budaya" itu, kata dia, anak-anak bisa belajar banyak hal, mulai menolak aksi tawuran, mencintai kebudayaan tradisional yang menjadi kearifan lokal, dan mempererat persatuan dan kesatuan.

"Aksi ini diikuti oleh sekitar 25 siswa kelas V SD Juara. Mereka (siswa, red.) ternyata antusias dengan aksi semacam ini. Kami ingin tanamkan kecintaan kebudayaan lokal kepada anak-anak sejak dini," katanya.

Selain itu, kata Joko, kegiatan itu juga dimaksudkan sebagai refleksi memeringati Sumpah Pemuda setiap tanggal 28 Oktober, sebab anak-anak ini menjadi generasi muda yang akan meneruskan perjuangan bangsa.

Sementara itu, Muhammad Zayen (11), salah satu siswa SD Juara Semarang yang menjadi peserta aksi itu mengaku tidak setuju dengan aksi tawuran yang dilakukan pelajar karena merupakan sesuatu yang tidak bermanfaat.

"'Ngapain' harus tawuran? Lebih baik melakukan atau membuat sesuatu yang berguna," kata siswa kelas V itu sembari membagikan pamflet berisi antitawuran pada pengendara yang lewat, didampingi salah satu guru.



Pewarta:
Editor: hernawan
COPYRIGHT © ANTARA 2026