Logo Header Antaranews Jateng

Pemprov Jateng mencatat 615 kasus kebakaran

Sabtu, 5 September 2026 05:19 WIB
Image Print
Sekretaris Daerah Jawa Tengah Sumarno saat kegiatan Apel Pelatihan Peningkatan Kapasitas Personil Relawan Kebencanaan di Balai Pemantapan Kawasan Hutan (BPKH) Penggaron, Ungaran Timur, Kabupaten Semarang, Jumat (4/9/2026). ANTARA/HO-Pemprov Jateng

Semarang (ANTARA) - Pemerintah Provinsi Jawa Tengah mencatat setidaknya terjadi 615 kasus kebakaran di berbagai wilayah di provinsi setempat mulai 1 Januari hingga 30 Agustus 2026.

Sekretaris Daerah Jawa Tengah Sumarno, di Semarang, Jumat, menyebutkan bahwa kebakaran terjadi pada hutan, lahan, serta gedung dan permukiman.

Dari 615 kasus kebakaran, terdiri atas 282 kejadian kebakaran hutan dan lahan, serta 333 kejadian kebakaran gedung dan pemukiman.

Ia mengakui bahwa kapasitas personel relawan terus diperkuat supaya mampu merespons cepat saat ada kejadian bencana.

Menurut dia, peningkatan kompetensi relawan penting agar mereka mampu mengambil langkah cepat dan tepat ketika terjadi bencana.

"Kami mengapresiasi dan sangat 'support' kegiatan peningkatan kapasitas teman-teman relawan. Ini menjadi bagian tanggung jawab pemerintah daerah agar kalau ada kebencanaan, penanganannya bisa lebih cepat," katanya.

Hal tersebut disampaikannya saat kegiatan Apel Pelatihan Peningkatan Kapasitas Personil Relawan Kebencanaan di Balai Pemantapan Kawasan Hutan (BPKH) Penggaron, Ungaran Timur, Kabupaten Semarang.

Ia mengatakan kecepatan penanganan bencana memerlukan kompetensi yang teruji dari para relawan di lapangan.

Kecepatan tindakan dinilai berbanding lurus dengan meminimalkan dampak kerugian materiil maupun korban jiwa.

Menghadapi potensi bencana di musim kemarau saat ini, Pemprov Jateng menyoroti ancaman kebakaran lahan dan tempat pembuangan sampah.

Karena itu, Sumarno mengingatkan masyarakat untuk tidak sembarangan melakukan pembakaran di luar rumah.

Sementara itu, Kepala Pelaksana Harian (Kalakhar) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Jateng Bergas Catursasi Penanggungan menjelaskan pelatihan diikuti oleh sekitar 150 peserta terpilih dari berbagai kabupaten dan kota di Jateng.

Materi pelatihan melibatkan instruktur dari Basarnas dengan fokus utama pada peningkatan kapasitas pencarian dan pertolongan, seperti Urban Search and Rescue (Urban SAR).

Menanggapi pemetaan risiko kebakaran, ia menyebutkan, sebagian besar kejadian didominasi oleh kebakaran lahan pertanian atau perkebunan yang dipicu kelalaian manusia (human error).

"BPBD tetap harus siap. Begitu terdeteksi titik panas (hotspot) yang berefek pada potensi kebakaran, kita langsung bergerak memadamkan bekerja sama dengan Damkar setempat," katanya.

Baca juga: Pemkot Surakarta tetapkan status Tanggap Darurat Bencana Alam pascakebakaran TPA Putri Cempo



Pewarta:
Editor: Edhy Susilo
COPYRIGHT © ANTARA 2026