Logo Header Antaranews Jateng

Imam Besar Islamic New York Center Syamsi Ali ungkap perkembangan Islam di Amerika saat kuliah umum di UMS

Kamis, 21 Mei 2026 13:53 WIB
Image Print
Imam besar Islamic Center of New York Muhammad Syamsi Ali, Lc., M.A., Ph.D saat memberikan kuliah umum di UMS. ANTARA/HO-UMS

Solo (ANTARA) - Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) menggelar kuliah umum dengan menghadirkan Imam Besar Islamic Center of New York, Muhammad Syamsi Ali, Lc., M.A., Ph.D., di Masjid Hj Sudalmiyah Rais Kampus UMS, Solo, Jawa Tengah, Kamis.

Dalam kesempatan tersebut, Syamsi Ali membagikan pengalaman dan pandangannya mengenai perkembangan Islam di Amerika Serikat setelah hampir 30 tahun bermukim di Kota New York.

Wakil Rektor III UMS Dr. Mutohharun Jinan, M.Ag., menyampaikan kuliah umum tersebut menjadi momentum penting bagi sivitas akademika untuk memahami perkembangan Islam di dunia Barat, khususnya di Amerika.

“Kita bersyukur kepada Allah pada pagi hari ini kita dapat menghadiri majelis taklim untuk bersilaturahim, untuk bersama-sama kita mendapatkan wawasan pengetahuan tentang Islam, khususnya Islam yang berkembang di dunia Barat, lebih khusus lagi di Amerika,” ujarnya.

Dia menambahkan kehadiran Syamsi Ali menjadi berkah tersendiri bagi warga UMS karena dapat mendengarkan langsung pengalaman tokoh yang berkiprah dalam dakwah Islam di Amerika Serikat.

“Ini merupakan salah satu berkah besar bagi kita semuanya. Kalau selama ini kita mendapatkan informasi itu dari tulisan-tulisan tokoh, tulisan-tulisan da’i, hari ini kita bersama langsung dengan Ustaz Muhammad Syamsi Ali yang memang beliau banyak memberikan warna dan pengaruh perkembangan Islam di Amerika,” tambahnya.

Dalam kuliah umum tersebut, Syamsi Ali menceritakan perjalanan hidupnya sejak mondok di Pesantren Muhammadiyah Darul Arqam Gombara hingga akhirnya menetap di Amerika Serikat. Ia mengaku mulai mendalami Tapak Suci sejak di pesantren dan sempat menjadi juara provinsi Sulawesi Selatan saat masih duduk di bangku SMA.

“Jadi pertama kali saya keluar dari Sulsel itu karena silat,” ungkapnya.

Setelah lulus dari pesantren, Syamsi Ali memperoleh beasiswa untuk menempuh pendidikan di Pakistan selama tujuh tahun, kemudian menjadi pengajar di Arab Saudi selama dua tahun sebelum akhirnya menetap di New York.

“Sekarang ini sudah hampir 30 tahun di Kota New York. Rasa-rasanya hidup saya lebih banyak di luar negeri. Tapi saya cinta Indonesia,” tuturnya.

Dalam pemaparannya, Syamsi Ali menilai Amerika Serikat merupakan negara dengan pengaruh besar secara ekonomi dan militer, tetapi juga menghadapi tantangan moral dan sosial yang serius. Menurutnya, kehadiran Islam di Amerika bukan menjadi ancaman, melainkan membawa nilai penyelamatan dan perbaikan moral.

“Kehadiran dakwah Islam di Amerika bukan ancaman, tapi adalah salvation (penyelamatan). Amerika adalah lahan dakwah yang sangat subur,” jelasnya.

Dia juga menyinggung perkembangan Islam pascatragedi 11 September 2001 atau 9/11. Menurutnya, setelah tragedi tersebut justru semakin banyak masyarakat Amerika yang ingin mempelajari Islam meskipun banyak tantangannya.

“Setelah tragedi 9/11, orang-orang di Amerika justru berbondong-bondong belajar dan masuk Islam,” katanya.

Selain itu, Syamsi Ali menekankan pentingnya pendekatan rasional dan keteladanan dalam berdakwah di tengah masyarakat Barat. Ia menyebut generasi muda di Amerika merupakan “generation of whys” yang selalu mempertanyakan alasan logis di balik ajaran agama.

“Agama kita sangat logis dan rasional. Terkadang presentasi kita yang menggunakan dogma tanpa logika membuat orang terpental,” ujarnya.

Menurutnya, dakwah melalui perilaku atau dakwah bil hal juga memiliki pengaruh yang besar. Dia menceritakan pengalaman seorang mahasiswi Columbia University bernama Elizabeth yang akhirnya memeluk Islam setelah melihat keramahan masyarakat Indonesia dalam sebuah acara halal bihalal di New York.

“Keesokan harinya dia menelepon saya dan berkata, ‘I have seen it. Saya sudah melihat Islam dalam perilaku. Saya sekarang mau masuk Islam,’” kenangnya.

Pada sesi diskusi, Syamsi Ali turut membahas tantangan Islamophobia, kondisi politik Amerika Serikat, hingga pentingnya menjaga persatuan umat Islam di tengah keberagaman mazhab dan pandangan. Menurutnya, perbedaan adalah hal yang wajar, namun perpecahan menjadi persoalan yang harus dihindari.

“Hal yang paling menyakitkan bagi umat Islam adalah perpecahan, bukan perbedaan,” pungkasnya.



Pewarta:
Editor: Edhy Susilo
COPYRIGHT © ANTARA 2026