
Pemkot gerak cepat tangani anak korban pembakaran di Semarang Utara

Semarang (ANTARA) - Pemerintah Kota Semarang langsung bergerak cepat menangani kasus tragis yang menimpa seorang siswi kelas 2 SMP berinisial T (15) yang menjadi korban pembakaran oleh pamannya di Tambakmulyo, Semarang Utara.
Camat Semarang Utara Siwi Wahyuningsih di Semarang, Rabu, mengatakan langsung berkoordinasi dengan pihak terkait untuk menangani permasalahan tersebut.
Bersama jajaran kelurahan, ia melakukan koordinasi dengan dinas terkait, seperti Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) dan Dinas Sosial, serta RSUD KRMT Wongsonegoro (RSWN) Semarang untuk memastikan korban mendapatkan perlindungan dan perawatan medis yang layak, setelah sempat terkendala biaya pengobatan.
Menurut dia, langkah tersebut diambil sebagai bentuk respons, sekaligus wujud perhatian pemerintah kota atas musibah yang dialami warganya.
"Kami juga sampaikan bahwa atas instruksi dari Ibu Wali Kota, kita lakukan atensi, intervensi terhadap korban. Yang pertama kita lakukan adalah berkoordinasi dengan DP3A karena ini korbannya adalah di bawah umur," katanya.
Proses penanganan dimulai dengan melakukan pendampingan dan asesmen mendalam bersama DP3A Kota Semarang.
Korban sebelumnya sempat dibawa ke rumah sakit swasta namun terpaksa dipulangkan oleh orang tuanya karena kendala biaya.
Melihat kondisi tersebut, pihak kecamatan bersama DP3A memindahkan korban ke RSWN untuk mendapatkan pengobatan intensif.
"Karena tidak bisa dikaver oleh BPJS, karena kemarin kan dibawa ke RS swasta. Setelah itu dengan adanya kita memberikan bantuan bersama DP3A, pendampingan, ini kita kirim ke RSWN untuk dilakukan pemeriksaan pengobatan secara intensif," katanya.
Kondisi luka bakar yang diderita korban dilaporkan mencapai 30 persen, yang meliputi area lengan kanan hingga bagian punggung.
Selain bantuan medis, Dinas Sosial juga telah menyalurkan bantuan logistik berupa sembako untuk meringankan beban keluarga korban selama masa pemulihan.
"Luka sekitar 30 persen. Makanya kita evakuasi karena takutnya (luka) rentan sama bakteri, sama virus," katanya.
Sebelumnya, T mendapatkan tindakan kekerasan berupa pembakaran oleh pamannya di depan rumahnya, Sabtu (18/4), karena persoalan sepele, yakni tidak mau disuruh mandi.
Pewarta: Zuhdiar Laeis
Editor:
Teguh Imam Wibowo
COPYRIGHT © ANTARA 2026
