Logo Header Antaranews Jateng

Pakar: AI perlu diselaraskan dengan nilai-nilai kemanusiaan

Selasa, 10 Februari 2026 08:35 WIB
Image Print
Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Islam Sultan Agung Semarang Prof Dr Heru Sulistyo, didampingi jajaran guru besar yang akan dikukuhkan, saat menyampaikan pernyataan kepada media, di Semarang, Senin (9/2/2026). (ANTARA/Zuhdiar Laeis)

Semarang (ANTARA) - Pakar manajemen sumber daya manusia (SDM) Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Islam Sultan Agung (Unissula) Prof Ardian Ardhiatma menyebut kecerdasan artifisial (KA) atau artificial intelligence (AI) perlu diselaraskan dengan nilai-nilai kemanusiaan.

"Teknologi AI menggantikan manusia di semua pekerjaan di lini bawah. Dulu sering ketemu petugas gerbang tol, sekarang tidak. Pabrik sekarang pakai mesin," katanya, di Semarang, Senin.

Perkembangan teknologi AI, kata dia, juga membawa fenomena krusial menjadikan manusia berkreasi yang tidak baik untuk mengakali AI, akhirnya terjadi phishing, plagiat, dan sebagainya.

Persoalannya, ia mengatakan bahwa AI sebagai teknologi tidak memiliki kebijakan dan kearifan, sebagaimana nilai-nilai kemanusiaan yang dimiliki manusia.

"Sebagai contoh, saya terlambat karena bangun siang, kemudian teman saya terlambat karena macet. Ini kalau pakai mesin dinilai sama, yakni terlambat," katanya.

Namun, kata dia, penyebab apa seseorang kemudian menjadi terlambat juga perlu dipertimbangkan karena kondisinya bisa saja berbeda, termasuk menentukan sanksi.

Permasalahan itulah yang akan disampaikan Ardian dalam pidato pengukuhan guru besarnya pada 12 Februari mendatang, bersama dengan dua guru besar lain dari FEB Unissula.

Sementara itu, Prof Winarsih juga membahas mengenai AI dalam pidato pengukuhannya, namun lebih terkait dengan akuntansi yang dikhawatirkan menggeser peran akuntan.

"Ya, kita harus adaptif dengan perkembangan teknologi. Namun, mesin tidak punya perasaan dalam analisis data. Peran akuntan tetap diperlukan meskipun perkembangan teknologi luar biasa," katanya.

Sedangkan Prof Tri Wikaningrum, membahas mengenai organisasi, yakni organisasi tidak selalu sukses karena leader atau pemimpinnya, tetapi pengikut atau follower sebenarnya juga memegang peranan penting.

Sementara itu, Dekan FEB Unissula Prof. Dr. Heru Sulistyo menyampaikan kebanggaannya dengan bertambahnya jajaran guru besar di fakultas yang dipimpinnya menjadi 21 profesor.

"Saat ini, kami memiliki 21 guru besar menjadikan FEB Unissula sebagai FEB dengan jumlah profesor terbanyak di lingkup perguruan tinggi swasta di Jawa Tengah," katanya.

Dari 21 profesor yang dimiliki FEB Unissula, 13 profesor di antaranya dihasilkan di bawah kepemimpinan Heru sebagai dekan, mulai 2022 sampai sekarang.

Untuk guru besar kehormatan, kata dia, FEB Unissula memiliki lima profesor sehingga jika ditotal setidaknya sudah ada 26 guru besar di lingkup fakultas tersebut.

"Dikukuhkannya para profesor ini diharapkan mampu mendorong peningkatan kualitas pembelajaran dan inovasi riset yang berdaya saing internasional," katanya.


Baca juga: Mahasiswa KKN UMS selenggarakan pelatihan AI dan koding bagi guru



Pewarta:
Editor: Edhy Susilo
COPYRIGHT © ANTARA 2026