Banyumas (ANTARA) - Sentra Satria Baturraden sebagai unit pelaksana teknis Kementerian Sosial (Kemensos) mengajak masyarakat memperkuat komitmen membangun lingkungan yang inklusif melalui rangkaian kegiatan sosial, layanan atensi, dan perlombaan bagi penyandang disabilitas dalam peringatan Hari Disabilitas Internasional 2025.
Pada puncak peringatan Hari Disabilitas Internasional (HDI) 2025 di Sentra Satria Baturraden, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, Rabu, Kepala Sentra Satria Baturraden Darmanto mengatakan peringatan HDI menjadi momentum bahwa kemajuan sosial hanya dapat terwujud bila semua warga mendapat kesempatan yang sama untuk berkembang, berdaya, dan berkarya tanpa hambatan.
“Tema tahun ini mengingatkan bahwa inklusi bukan sekadar slogan, tetapi tindakan nyata yang membutuhkan komitmen bersama,” katanya.
Ia mengatakan rangkaian peringatan HDI 2025 di Sentra Satria Baturraden berlangsung pada 3-7 Desember 2025, dimulai dengan pelatihan bahasa isyarat bagi praktisi layanan sosial, layanan sosial dan kesehatan gratis, hingga berbagai perlombaan yang melibatkan penyandang disabilitas dari enam kabupaten wilayah kerja Sentra Satria.
Lomba tersebut meliputi bulu tangkis dan futsal untuk disabilitas rungu, bocce untuk penyandang down syndrome, lari atletik bagi tuna grahita, serta catur untuk penyandang tunanetra.
“Olahraga adalah simbol kekuatan, keberanian, dan semangat tanpa menyerah,” katanya.
Selain itu, kata dia, kegiatan juga diramaikan bazar, pameran karya disabilitas, serta gelar wicara (talkshow) bersama penyandang disabilitas berprestasi.
Menurut dia, kegiatan tersebut memberi ruang bagi penyandang disabilitas untuk menunjukkan potensi dan kreativitas mereka.
Pada peringatan kali ini, Sentra Satria menyalurkan bantuan atensi dari Kemensos senilai Rp3.535.468.900 kepada penyandang disabilitas di enam kabupaten, yakni Banyumas Rp857.569.400, Banjarnegara Rp666.091.000, Cilacap Rp514.391.000, Brebes Rp557.570.000, Purbalingga Rp532.976.000, dan Kebumen Rp406.871.500.
“Ini bukti hadirnya negara memastikan penyandang disabilitas memperoleh dukungan agar hidup lebih layak dan berdaya,” katanya.
Menurut dia, Sentra Satria juga memberikan layanan atensi berupa kebutuhan hidup layak, kursi roda, tongkat, peralatan sekolah, hingga terapi psikososial. Untuk mendorong kemandirian, diselenggarakan pula pelatihan vokasional seperti cooking class, pembuatan manik-manik, dan kegiatan kewirausahaan lain.
Dalam kesempatan itu, dia juga memaparkan perkembangan pembelajaran Sekolah Rakyat (SR) di Sentra Satria yang kini menampung 50 siswa dari keluarga prasejahtera.
Ia mengatakan sistem pendidikan berasrama (boarding) dan larangan penggunaan gawai diterapkan untuk mendukung pembentukan karakter dan kemandirian.
“Awalnya beberapa anak tantrum karena tidak memakai HP. Namun sekarang mereka lebih fokus, mentalnya kuat, dan berani bersosialisasi,” katanya.
Ia mengatakan siswa juga mengikuti ekstrakurikuler seperti pramuka, pencak silat, tari, dan kegiatan kebangsaan bekerja sama dengan TNI, Polri, tokoh agama, serta pelatih seni.
Selain mendampingi siswa, kata dia, Sentra Satria memberikan dukungan bagi keluarga mereka berupa bantuan kebutuhan layak hingga peralatan sekolah untuk adik-adik siswa.
“Kami memahami kesulitan ekonomi orang tua. Bantuan ini agar anak dapat belajar dengan nyaman,” katanya.
Ia menegaskan bahwa inklusi harus dimulai dari penyandang disabilitas sendiri, kemudian diperkuat oleh keluarga dan masyarakat.
“Harapannya, panggung-panggung seperti ini memperkuat penerimaan sosial sehingga inklusi benar-benar nyata,” katanya.
Ia mengatakan seluruh pemerintah kabupaten di wilayah kerja Sentra Satria diundang untuk menghadiri peringatan HDI 2025 serta menyaksikan berbagai penampilan dan pelayanan yang diberikan Sentra Satria Baturraden.
Dalam hal ini, wilayah kerja Sentra Satria Baturraden meliputi enam kabupaten di Jawa Tengah dan lima kabupaten di Kalimantan Barat.
Darmanto mengharapkan momentum tersebut memperluas ruang bagi penyandang disabilitas untuk berkarya dan berpartisipasi dalam pembangunan sosial.
Baca juga: Hari Disabilitas Internasional 2025, Pakar UMS: inklusivitas adalah identitas moral

