Semarang (ANTARA) - Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Jawa Tengah berkolaborasi dengan PT PLN Indonesia Power berupaya meningkatkan kualitas layanan daycare atau tempat penitipan anak (TPA).
"Ini merupakan cakupan dari program Tamasya, yakni Taman Asuh Sayang Anak, salah satu Quick Win dari Kemendukbangga/BKKBN," kata Ketua Tim Kerja Keluarga Sejahtera dan Pemberdayaan Keluarga BKKBN Jateng Nitya Apranadyanti, di Semarang, Rabu.
Hal tersebut disampaikannya saat penyerahan bantuan alat peraga, alat permainan, dan alat pendukung dari PLN Indonesia Power UBP Semarang di Tempat Penitipan Anak (TPA) Bandarharjo.
TPA Bandarharjo itu merupakan Rumah Penanganan Stunting Lintas Sektor bagi Bayi di Bawah Dua Tahun (Rumah Pelita) yang merupakan daycare gratis milik Pemerintah Kota Semarang.
Menurut dia, program Tamasya menyasar TPA untuk memenuhi empat layanan utama, yakni peningkatan kapasitas tenaga pengasuh, pemantauan tumbuh kembang anak, keterlibatan orang tua dalam pengasuhan, dan layanan rujukan apabila diperlukan.
"Program Tamasya ini sudah diimplementasikan di rumah Pelita ini, dan harapannya ini bisa dikembangkan atau sebagai contoh untuk TPA atau 'daycare' lain yang ada di Kota Semarang," katanya.
Nitya menjelaskan bahwa implementasi program Tamasya tertuang dalam surat edaran bersama (SEB) enam menteri, dan BKKBN juga menggandeng berbagai pihak, termasuk PT PLN Indonesia Power UBP Semarang sebagai BUMN.
Manager Operasi PT PLN Indonesia Power UBP Semarang Johan Kurniawan menyampaikan dukungan terhadap program Tamasya untuk mewujudkan Indonesia Emas 2045.
"Indonesia memiliki bonus demografi yang menjadi peluang dan tantangan. Apabila mampu dikelola baik sangat mudah dicapai, namun kalau tidak mampu dikelola baik jadi beban demografi di waktu yang akan datang," katanya.
Untuk mempersiapkan bonus demografi, keberadaan daycare menjadi sangat penting sehingga PLN Indonesia Power UBP Semarang berkomitmen melalui tanggung jawab sosial dan lingkungan (TJSL) perusahaan.
"Kami berikan bantuan berupa alat peraga untuk mainan, kemudian juga ada buku-buku yang nanti akan memperkuat literasi anak-anak, dan juga ada untuk alat ukur timbang, 'baby scale'," katanya.
Sementara itu, Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Kota Semarang Siti Minasari menyampaikan terima kasih atas bantuan yang diberikan kepada TPA atau Rumah Pelita Bandarharjo.
Ia menyebutkan saat ini terdapat 11 Rumah Pelita di Kota Semarang sebagai salah satu upaya intervensi mengatasi stunting yang salah satunya disebabkan pola asuh dan makanan diberikan yang terkait faktor ekonomi.
Di Rumah Pelita, orang tua yang bekerja bisa menitipkan anaknya mulai pukul 09:00-14:00 WIB dan memastikan setiap anak mendapatkan asupan minimal sebanyak 1.400 kalori per hari.
"Dulu, intervensi stunting dilakukan dengan PMT (pemberian makanan tambahan), tapi keberhasilannya hanya 34 persen. Sejak 2022, kami intervensi lewat Rumah Pelita," katanya.
"Setelah anak lulus (dari Rumah Pelita), kami menempatkan kader untuk memantau. Terima kasih atas bantuan yang diberikan. Kami berharap kerja sama ini tidak hanya berhenti di sini," katanya.

