
Kemenimipas bersama PLN kolaborasi ubah limbah jadi produk bernilai tinggi

Cilacap (ANTARA) - Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan (Imipas) dan PT PLN (Persero) berkolaborasi mengoptimalkan limbah pembangkit listrik tenaga uap berupa abu terbang (fly ash) dan abu dasar (bottom ash) untuk diolah warga binaan menjadi produk bernilai ekonomi.
Saat memberi keterangan pers usai meninjau Workshop FABA (Fly Ash Bottom Ash) Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Terbuka, Pulau Nusakambangan, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, Selasa, Menteri Imipas Agus Andrianto mengatakan program tersebut tidak hanya bertujuan memberdayakan warga binaan, tetapi juga mendukung program pemerintah dalam percepatan pembangunan rumah murah.
"Kami sedang menjalankan model pemberdayaan ini. Warga binaan dilatih untuk kembali produktif," katanya.
Ia mengatakan kolaborasi dengan PLN telah berjalan di 12 lapas dan akan terus dikembangkan untuk memproduksi material seperti paving block dan batako yang dapat digunakan untuk pembangunan perumahan.
Sementara itu, Direktur Utama PT PLN (Persero) Darmawan Prasodjo mengatakan limbah abu terbang dan abu dasar dapat menjadi pengganti semen serta pasir dengan kualitas premium.
"Kami sangat terkejut dengan kemampuan, kedisiplinan, dan etos kerja warga binaan yang luar biasa. Produk yang dihasilkan sangat premium dan punya pangsa pasar di industri," jelas Darmawan.
Menurut dia, pemanfaatan limbah PLTU menjadi produk produktif itu menciptakan lapangan kerja dan memberikan dampak positif bagi masyarakat.
Terkait dengan hal itu, Deputi Bidang Koordinasi Informasi dan Evaluasi Komunikasi (Deputi 3) Kantor Komunikasi Kepresidenan/Presidential Communication Office (PCO) Fritz Edward Siregar mengatakan kolaborasi antara Kemenimipas dan PLN merupakan bagian dari visi Presiden Prabowo Subianto untuk menciptakan ketahanan pangan nasional.
"Ini kolaborasi lintas kementerian yang didukung oleh PT PLN. Kami berharap lahan-lahan lain yang bisa dimanfaatkan untuk ketahanan pangan dapat digunakan juga," katanya.
Pewarta: Sumarwoto
Editor:
Immanuel Citra Senjaya
COPYRIGHT © ANTARA 2026
