
UMK gelar aksi damai doa bersama untuk jaga marwah demokrasi

Kudus (ANTARA) - Sivitas akademika Universitas Muria Kudus (UMK) menggelar aksi damai doa bersama, menyalakan lilin, dan tabur bunga sebagai bentuk kepedulian atas tragedi dalam aksi unjuk rasa di Jakarta pada 28 Agustus 2025 yang menimbulkan korban jiwa, Minggu malam.
Rektor UMK Prof. Dr. Ir. Darsono di Kudus, menyampaikan belasungkawa mendalam kepada keluarga korban dan mendoakan agar para korban lain yang meninggal maupun terluka segera mendapat kesembuhan.
"Tragedi ini tidak hanya melukai korban dan keluarganya, tetapi juga melukai nurani kita bersama sebagai bangsa. Kami ikut berduka cita yang sedalam-dalamnya," ujarnya.
Dalam aksi tersebut, UMK juga menyampaikan pernyataan sikap terkait kondisi nasional yang belakangan diwarnai aksi demonstrasi, bentrokan, hingga penjarahan.
Darsono menegaskan kampus harus menjadi ruang teduh untuk mempertemukan akal sehat dan nurani di tengah situasi yang memanas.
Ada delapan poin sikap yang disampaikan UMK, di antaranya mengajak sivitas akademika UMK tetap tenang, tidak terprovokasi, dan menjadikan kampus sebagai ruang dialog sehat.
Kemudian mendorong mahasiswa dan masyarakat menyampaikan aspirasi secara kritis dan bermartabat, tanpa anarki, menolak segala bentuk kekerasan dan penjarahan, dan
mendesak aparat penegak hukum mengusut kasus secara profesional, transparan, dan akuntabel.
Selain itu, UMK juga mengajak pemerintah menjadikan tragedi ini sebagai pembelajaran berharga dalam memperbaiki tata kelola negara, mengisi ruang publik dengan narasi empati, persatuan, dan solusi, bukan hoaks atau provokasi, serta mengawal proses hukum kasus Affan Kurniawan agar keadilan ditegakkan.
"Kami juga mengajak seluruh bangsa berdoa agar Indonesia diberi kekuatan melewati masa sulit dengan damai dan bermartabat," ujarnya.
Ia mengingatkan para pejabat dan politisi agar menjadikan jabatan sebagai amanah untuk melayani rakyat, bukan sekadar kekuasaan.
"Kalau komunikasi dengan rakyat tidak dijaga, kekecewaan akan menumpuk dan bisa meledak. Saat ini kita sudah melihat gejalanya. Jadikan peristiwa ini sebagai pembelajaran yang berharga," tegasnya.
Pewarta: Akhmad Nazaruddin
Editor:
Edhy Susilo
COPYRIGHT © ANTARA 2026
