
Solo kembali tambah SPPG untuk sukseskan MBG

Solo (ANTARA) - Kota Solo, Jawa Tengah kembali menambah jumlah satuan pelayanan pemenuhan gizi (SPPG) untuk menyukseskan program makan bergizi gratis (MBG) yang diinisiasi oleh pemerintah pusat.
Terbaru SPPG Laweyan berdiri dengan mengoperasikan dua unit dapur. SPPG Laweyan yang mulai dibuka, Senin tersebut berada di bawah Yayasan Bangun Gizi Nusantara yang setiap harinya memproduksi sekitar 6.000 porsi makan untuk para siswa.
Pemilik Yayasan Bangun Gizi Nusantara Puspo Wardoyo mengatakan saat ini baru membuka dua dapur untuk kebutuhan MBG di Kota Solo. Pihaknya menghabiskan investasi sekitar Rp6 miliar untuk dua dapur di SPPG Laweyan tersebut.
Ia menargetkan ke depan bisa menambah enam dapur umum lagi. Ia berharap dapat merealisasi pembukaan delapan dapur SPPG di Solo tahun ini.
Ia berencana membuka SPPG secara merata di setiap kecamatan di Kota Solo. Meski demikian, diakuinya, pembukaan SPPG terkendala oleh ketersediaan tanah.
“Di Solo yang jadi masalah tanah kan, tapi kita kan berjuang untuk negara. Yang pasti ini hanya salah satu contoh, kami memberikan dapur yang bersih, higienis, ada sistemnya,” katanya.
Sementara itu, untuk mengantisipasi rasa bosan dari para siswa, pihaknya menyiapkan sekitar 200 menu sehingga setiap hari masakannya bisa lebih variatif.
“Ada menu Indonesia, menu Asian, menu Oriental, menu Eropa, karena anak-anak sekarang kan tidak seperti dulu,” katanya.
Sementara itu, Wali Kota Surakarta Respati Ardi memberikan apresiasi pada pembukaan SPPG Laweyan tersebut.
“Di Solo dari data kami kalau dari calon penerima maka targetnya 40 dapur, sampai hari ini baru enam yang beroperasi,” katanya.
Ia mengatakan angka tersebut bukan merupakan target sederhana. Oleh karena itu, pihaknya akan memenuhinya secara bertahap. Sampai dengan akhir tahun ini ditargetkan ada 20 dapur SPPG yang beroperasi di Kota Solo.
Menurut dia, untuk menambah jumlah SPPG diperlukan kerja sama dengan berbagai pihak, termasuk dengan pelaku usaha.
“Banyak di Pasarkliwon masih banyak yang belum ada. Oleh karena itu, kami koordinasi dengan stakeholder untuk memenuhi target sesuai dengan standar, termasuk proses higienis sehingga makanan tidak hanya enak dikonsumsi tapi juga memastikan tumbuh kembang yang maksimal. Kita tidak memberi apa yang mereka mau tapi apa yang mereka butuhkan,” katanya.
Pewarta : Aris Wasita
Editor:
Edhy Susilo
COPYRIGHT © ANTARA 2026
