Logo Header Antaranews Jateng

IFC rencanakan "Jateng Fashion Tren" jadi agenda tahunan

Jumat, 18 Juli 2025 09:32 WIB
Image Print
Para model menampilkan koleksi desainer pada "Jateng Fashion Trend 2025" yang berlangsung di Renaissance Ballroom, Semarang, Minggu (12/7/2025). (ANTARA/Zuhdiar Laeis)

Semarang (ANTARA) - Indonesian Fashion Chamber (IFC) Semarang Chapter berencana menyelenggarakan ajang peragaan busana dan mode bertajuk "Jateng Fashion Trend" sebagai agenda tahunan.

Ketua IFC Semarang Chapter Sudarna Suwarsa, di Semarang, Minggu, menyampaikan komitmennya menjadikan even tersebut sebagai ajang tahunan yang konsisten mengangkat potensi mode lokal.

"Kami ingin membangkitkan lagi Semarang bisa menjadi pusat mode ya, pusat custom made terutama pakaian pesta, pakaian pengantin, dan semua kategori pakaian," katanya, di sela "Jateng Fashion Trend 2025".

Menurut dia, Semarang memiliki identitas kuat di dunia mode, khususnya dalam produk "custom made" sehingga pihaknya mendorong agar Kota Lunpia bisa menjadi kota mode nasional.

Ia menegaskan Semarang memiliki potensi besar menjadi episentrum mode nasional sehingga even-even seperti "Jateng Fashion Trend" perlu digencarkan.

Dengan mengangkat isu keberlanjutan dan menggabungkannya dengan nilai lokal dan sentuhan kemewahan global, kata dia, even tersebut mengukuhkan posisi Semarang sebagai kota kreatif yang menjanjikan.

Gelaran tahunan yang digagas Indonesian Fashion Chamber (IFC) Semarang Chapter kali ini mengusung tema Eco Luxury, kolabroasi yang tak hanya memamerkan keindahan fashion, tapi juga membawa pesan kuat soal keberlanjutan dan potensi Semarang sebagai kota mode nasional.

PIC 1 Jateng Fashion Trend 2025 Elkana Gunawan menyampaikan bahwa "Eco Luxury" dipilih menjadi tema sebagai bentuk kepedulian terhadap isu keberlanjutan di industri fesyen.

"Kami mengambil tema 'Eco Luxury' tahun ini 2025 bersama teman-teman IFC Semarang sepakat mengambil tema 'eco fashion'. Jadi, kami ikut peduli dengan 'sustainability' yang ada di bumi ini, di antaranya dengan mengolah sesuatu yang aman untuk lingkungan," katanya.

"Eco", dalam konteks itu tidak melulu tentang pewarna alami, tetapi juga memanfaatkan limbah serta memilih bahan yang awet agar tak menjadi bagian dari tren fesyen cepat (fast fashion).

Selain itu, IFC Semarang juga menggandeng komunitas lokal seperti ibu-ibu rumah tangga, pelajar, hingga mahasiswa untuk terlibat dalam proses kreatif seperti kerajinan tangan dan sulaman.

"Kami juga memberdayakan ibu-ibu rumah tangga maupun anak-anak sekolah, rekan-rekan mahasiswa untuk turut mendukung 'craft' atau 'handcraft' baik dengan sulaman maupun yang lainnya. Jadi, ada satu kesatuan dari ujung sampai ujung," katanya.

"Jateng Fashion Trend 2025" yang berlangsung di Renaissance Ballroom Semarang diikuti deretan desainer ternama, seperti Bramanta, Novita Ave Sanjaya, dan Samuel Wattimena.

Selain itu, tampil pula desainer-desainer binaan Bank Indonesia yang menampilkan koleksinya pada sesi kedua dalam "Fashion Incubation oleh Bank Indonesia Kantor Perwakilan Jawa Tengah 2025".

Diikuti oleh 40 peserta dari wilayah kerja BI KPw Jateng, terdiri atas 20 orang kelas desain dan 20 kelas produksi. Dibimbing oleh Wignyo Rahadi serta para mentor, antara lain David Yan, Sudarna Suwarsa, Enricho Ho dan Erika Ardianto.

Pelatihan diselenggarakan selama 14 hari, dimulai dari kurasi peserta ( dari 110 total calon peserta menjadi 40 peserta ) , pada hari ke 9 menjadi kelas kolaborasi untuk mewujudkan 20 look dalam koleksi bertajuk Tiga Pusaka Jawa Tengah.



Pewarta:
Editor: Edhy Susilo
COPYRIGHT © ANTARA 2026