Belasan perempuan terpilih terima tali asi

id Kongres perempuan, tali asih, semarang

Belasan perempuan terpilih terima tali asi

Pj Sekda Jateng Heru Setiadhie didampingi Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Jawa Tengah Retno Sudewi menyerahkan tali asih kepada penerima di acara penutupan Kongres Perempuan Jateng I, di Semarang, Selasa. ANTARA/Nur Istibsaroh

Semarang (ANTARA) - Belasan perempuan terpilih sebagai penerima tali asih pada acara Kongres Perempuan Jawa Tengah I yang diserahkan pada puncak acara di Semarang, Selasa.

Belasan perempuan tersebut berasal dari beragam latar belakang mulai dari korban kekerasan dalam rumah tangga hingga perempuan yang memperjuangkan isu pekerja migran serta aktifis komunitas.

Seluruhnya secara bergantian menerima tali asih yang diserahkan oleh Pj Sekda Jateng Heru Setiadhie dan Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Jawa Tengah Retno Sudewi.

Baca juga: Pemprov Jateng siap kawal hasil Kongres Perempuan Jateng

Belasan penerima tali asih tersebut antara lain Sikoh, perempuan dengan kepemimpinan yang menjabat sebagai Kepala Desa Tamangede, Kecamatan Gemuh, Kabupaten Kendal, Provinsi Jawa Tengah.

Kemudian Tri Suprihatin, perempuan kepala keluarga yang pernah menjadi buruh migran sekaligus korban kekerasan dalam rumah tangga (KDRT).

Asti Wulan Sari, perempuan kepala keluarga yang juga aktifis perempuan dalam pembangunan desa di komunitas Perempuan Desa Tamangede.

Budiati, perempuan dengan pembangunan desa selaku aktifis perempuan dalam pembangunan desa di komunitas dan aktifis dalam isu perempuan pekerja migran.

Nova, perempuan dengan pembangunan desa selaku aktifis perempuan di Musrenbang dalam komunitas Perempuan Desa Temangede, Kendal.

Penerima lainnya, Umi dan Dian Kartika selaku penggerak Komunitas Dewi Shinta (perempuan dengan rob Semarang).

Kemudian Suriyati, pekerja rumah tangga harian di beberapa tempat dalam satu hari sekaligus aktivis serikat pekerja rumah tangga.

PW, perempuan yang menikah pada usia 17 tahun sekaligus menjadi korban KDRT yang berasal dari Semarang, kemudian W, perempuan dengan HIV yang aktif melakukan advokasi.

Nunuk, perempuan yang menjadi korban kekerasan dalam rumah tangga dan hidup mandiri dengan tanggungan anak dan cucu.

Ririn, perempuan pekerja rumahan dengan Kab Semarang dan Irmalia, perempuan disabolitas netra berorifesi sebagai penyiar radio dan terkapasitasi pendidikan.

Baca juga: Kongres Perempuan Jateng hasilkan tujuh maklumat
Baca juga: PKK Jateng ingatkan pentingnya pola asuh orang tua

Pewarta :
Editor: Mahmudah
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar