Borobudur Marathon puncak "sport tourism" 2019

id borobudur marathon 2019

Borobudur Marathon puncak "sport tourism" 2019

Sejumlah pelari mengikuti Borobudur Maraton 2018 di kawasan Taman Wisata Candi (TWC) Borobudur, Magelang, Jawa Tengah, Minggu (18/11/2018). Borobudur Maraton 2018 melombakan tiga nomor yaitu Full Marathon 42,195 kilometer, Half Marathon 21 kilometer, dan 10 kilometer (10K) yang diikuti oleh sepuluh ribu peserta dari 28 negara. ANTARA/Anis Efizudin

Semarang (ANTARA) - Lomba lari Borobudur Marathon 2019 dinilai sebagai puncak event sport tourism tahun ini. Lomba yang akan dilaksanakan 17 November mendatang menjadi tolok ukur di bidang kepariwisataan dan olahraga. 

Untuk itu, semua elemen yang terlibat di event tahunan tersebut diminta untuk menerapkan pola kerja bergerak di semua lini atau total football.

Penegasan tersebut dikemukakan Kepala Disporapar Jateng Sinoeng Nugroho Rahmadi saat membuka rapat finalisasi event, Rabu (30/10) di Kantor Disporapar Jateng, Jalan Ki Mangunsarkoro, Semarang. 

"Saya ingin mengibaratkan seperti semangat Tim Oranye-Timnas Belanda- saat berlaga. Mereka total football dalam bermain. Kita juga demikian, maksimalkan kontribusi untuk Borobudur Marathon 2019 sesuai bidang masing-masing," kata Sinoeng.

Rapat dihadiri semua elemen panitia di antaranya Polres Magelang, Protokol, Balai Konservasi, dan lainnya.

11.000 peserta

Borobudur Marathon 2019 akan melombakan tiga kategori, marathon, half marathon, dan 10 K. Lomba akan diikuti 11.000 pelari dari 35 negara. Hadiah total yang akan diperebutkan Rp 2,8 M.

Dalam rapat diungkapkan juga keterlibatan Karang Taruna Kabupaten Magelang. Mereka akan difungsikan sebagai marshall sehingga diharapkan lomba berlangsung sukses.

Para pelari akan menyusuri 19 desa dan melewati 32 sekolah. "Perlu ada edukasi para marshall sehingga mereka bertugas mengerti akan tugas dan tanggung jawabnya," tambah Kabid Keolahragaan Disporapar Jateng Agung Hariyadi.

Sementara itu Kapolres Magelang AKBP Pungky Bhuana Santoso menjelaskan pengamanan di sepanjang rute yang akan dilewati berbeda tahun lalu. "Petugas tidak lagi menghadap ke lintasan, tetapi menghadap ke penonton. Ini dilakukan agar menghindari hal-hal yang tidak kita inginkan," demikian Pungky.***
Pewarta :
Editor: Achmad Zaenal M
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar