Pengamat politik ingatkan pentingnya keberadaan oposisi

id oposisi,politik,pemilu

Pengamat politik ingatkan pentingnya keberadaan oposisi

Istana Merdeka di Jakarta. Istana ini merupakan lambang pemerintahan di Indonesia. (wikipedia.org)

Putwokerto (ANTARA) - Pengamat politik dari Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Luthfi Makhasin mengingatkan pentingnya keberadaan oposisi sebagai pengontrol jalannya pemerintahan.

"Negara membutuhkan oposisi yang kuat sebagai pengontrol jalannya pemerintah yang berkuasa. Tanpa ada oposisi yang konstruktif dan memadai maka politik kita jadi kurang menarik lagi," katanya, di Purwokerto, Jumat.

Kendati demikian, dia berkata, pertemuan antara Ketua Umum DPP PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri, dan Ketua Umum DPP Partai Gerindra, Prabowo Subianto, belum tentu mengarah kepada perubahan konstelasi koalisi. "Terlalu jauh kalau kita simpulkan pertemuan tersebut mengarah kepada kemungkinan adanya perubahan konstelasi koalisi," katanya.

Menurut dia, pertemuan dua tokoh itu baru membuktikan bahwa rekonsiliasi pascapilpres telah terwujud. "Pertemuan itu bagus untuk membuktikan bahwa rekonsiliasi pascapilpres sudah terjadi, namun masih terlalu dini jika mengatakan pertemuan tersebut sebagai bagian dari perubahan konstelasi koalisi," katanya.

Baca juga: Pengamat: Oposisi sebagai kekuatan penyeimbang
Baca juga: Akademisi: Oposisi berperan ciptakan keseimbangan kekuasaan


Sebelumnya, pengamat politik lain dari Universitas Jenderal Soedirman, Ahmad Sabiq, berkata, oposisi berperan penting sebagai kekuatan penyeimbang dan pengontrol jalannya penyelenggaraan pemerintahan.

Oposisi, kata dia, "Bukan pula dengan terus mencari-cari cara untuk menjatuhkan pemerintah. Bila kebijakan yang diambil oleh pemerintah sudah benar, pihak oposisi tidak selayaknya mengganjal. Malahan harus mendukung dan mengawal agar kebijakan tersebut dijalankan juga dengan cara yang benar."

Peran oposisi merupakan peran yang terhormat dan juga mulia. "Penyelenggaraan pemerintahan memerlukan kontrol dari oposisi yang kekuatannya memadai, karena itu, koalisi yang sudah dibangun sebelum pilpres mestinya terus berlanjut pascapilpres. Partai-partai pengusung capres yang kalah jika menjadi oposisi akan memiliki peran yang terhormat dan mulia," katanya.

Pewarta :
Editor: Sumarwoto
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar