IMEI berlaku Agustus, risiko beli ponsel ilegal

id ponsel ilegal

IMEI berlaku Agustus, risiko beli ponsel ilegal

Ratusan ponsel replika merek Samsung Galaxy S4 dan Blackberry rekondisi itu diamankan dari seorang pelakunya berinisial CH (33) setelah dilakukan penggeledahan di toko serta rumahnya di Solo. ANTARA FOTO/R. Rekotomo

Jakarta (ANTARA) -  Pemerintah dalam waktu dekat akan memberlakukan aturan tentang nomor IMEI di ponsel untuk mencegah peredaran ponsel ilegal atau black market (BM) di Indonesia.

IMEI, kependekan dari International Mobile Equipment Identity, merupakan kode unik yang berguna identifikasi perangkat hingga keamanan ponsel.

Direktur Pemasaran dan Komunikasi PT Erajaya Swasembada Tbk, Djatmiko Wardoyo, menilai ponsel black market alias ilegal bukan hanya merugikan dari segi bisnis, namun juga konsumen.

"Dengan membeli produk bergaransi resmi, konsumen berhak atas garansi resmi dari kantor pusat atas kerusakan dari pabrik, selama bukan kesalahan pemakaian," kata Djatmiko saat diubungi Antara, Kamis.

Konsumen pada umumnya membeli ponsel black market untuk memiliki ponsel yang tidak masuk ke pasar Indonesia. Jika bukan itu, konsumen tertarik dengan harga yang murah.

Ponsel black market biasanya dijual dengan harga yang jauh lebih murah dibandingkan harga yang resmi beredar. Ponsel bisa dijual dengan harga yang lebih rendah karena kemungkinan tidak membayar pajak atau aturan lainnya untuk perangkat seluler.

Ponsel yang beredar secara ilegal tentu tidak mendapatkan garansi resmi, terutama dari produsen pusat.

Jika membeli ponsel black market, konsumen tentu tidak bisa mengklaim garansi ketika ponsel bermasalah.

Baca juga: Aturan IMEI berlaku Agustus, bagaimana tanggapan distributor ponsel?

Baca juga: Fungsi dan cara cek nomor IMEI ponsel

Baca juga: Kontrol IMEI ampuh hilangkan peredaran ponsel ilegal


 

Pewarta :
Editor: Antarajateng
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar