Nelayan Pekalongan antre lelang hasil tangkapan ikan

id Aktivitas lelang ikan, TPI Pekalongan

Nelayan Pekalongan antre lelang hasil tangkapan ikan

Kepala Tempat Pelelangan Ikan Kota Pekalongan Mohtar Sanusi. (Foto Kutnadi)

Pekalongan (ANTARA) - Beberapa nelayan Kota Pekalongan, Jawa Tengah, harus mengantre untuk melelang hasil tangkapan ikan mereka di tempat pelelangan ikan (TPI) setempat setelah sebelum Lebaran 2019, aktivitas berhenti selama 10 hari atau mulai 3 Juni hingga 12 Juni 2019.

Kepala TPI Kota Pekalongan Mohtar Sanusi di Pekalongan. Minggu, mengatakan bahwa pada hari ini sebanyak 2 kapal jyang membongkar hasil tangkapan ikan sedang yang lainnya harus menunggu lelang selanjutnya.

"Aktivitas lelang ikan mulai ramai setelah 10 hari sebelum Lebaran 2019 berhenti. Bahkan  hasil lelang ikan pada Sabtu (15/6) mencapai Rp900 juta atau 71 ton," katanya.

Menurut dia, para nelayan terpaksa menunggu antrean pada hari selanjutnya dengan mempertimbangkan untuk mensttabilkan harga ikan di pasaran karena permintaan pedagang dari daerah lainnya belum begitu ramai.

Hasil tangkapan ikan para nelayan selama 10 hari, kata dia, disimpan di dalam lemari pendingin agar tidak membusuk dan ikan tetap segar.

Ia mengatakan sejak aktivitas lelang ikan di TPI dibuka kembali pada 3 Juni 2019, pendapatan lelang ikan rata-rata Rp500 juta per hari, bahkan pada Sabtu (15/6) mampu mencapai Rp600 juta.

"Pada Minggu ini (16/6), kami memperkirakan hasil lelang ikan mampu mencapai lebih Rp500 juta karena dua kapal ikan  yang membongkar hasil tangkapan ikannya," katanya.

Ia mengatakan pihaknya optimistis target pendapatan asli daerah (PAD) 2019 dari sektor perikanan TPI sebesar Rp5,6 miliar akan terlampaui.

"Retribusi dari hasil lelang ikan sejak Januari 2019 hingga per 31 Maret 2019 sudah mencapai Rp1,263 miliar atau meningkat dibanding periode bulan yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp677 miliar. Adapun Mei hingga pertengahan Juni 2019, lelang ikan juga cukup ramai sehingga kami optimistis target akan terlampaui," katanya.
 
Pewarta :
Editor: Mahmudah
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar