Muhaimin terus dorong satu desa satu penghafal Al Quran

id Muhaimin, gagas satu desa, satu penghafal alquran

Muhaimin terus dorong satu desa satu penghafal Al Quran

Inisiator Gerakan Nusantara Mengaji Muhaimin Iskandar saat menghadiri menghadiri Nusantara Bertauhid di Pondok Pesantren Yanba'ul Qur'an Menawan, Kecamatan Gebog, Kudus, Selasa (9/4). (Foto: Akhmad Nazaruddin Lathif)

Kudus (ANTARA) - Inisiator Gerakan Nusantara Mengaji Muhaimin Iskandar mengusulkan setiap desa di Tanah Air minimal memiliki satu penghafal Al Quran untuk menularkan virus positif kepada masyarakat agar mau membaca, menghafal, dan mengamalkan nilai-nilai yang terkandung di dalam Al Quran.

"Selain satu desa minimal ada satu hafiz atau penghafal Al Quran, setiap masjid atau mushala juga harus ada hafiznya minimal satu orang," ujar Muhaimin Iskandar yang juga Ketua Umum PKB usai menghadiri Nusantara Bertauhid di Pondok Pesantren Yanba'ul Qur'an Menawan, Kecamatan Gebog, Kudus, Selasa.

Hadir pada acara tersebut, pengasuh Ponpes Yanba'ul Qur'an Ulun Nuha Arwani Ulil Albab Arwani serta Bupati Kudus Muhammad Tamzil.

Dalam rangka mewujudkan cita-cita tersebut, dia akan mendorong pemerataan distribusi hafiz dan perbaikan kualitas madrasah harus lebih baik lagi.

Kegiatan "Nusantara Bertauhid", kata Muhaimin yang akrab disapa Cak Imin itu, juga dalam rangka menularkan virus untuk pengajaran Al Quran, penghafalan dan pengamalan nilai-nilai Al Quran.

Semua ikhtiar dan doa tersebut, lanjut dia, dikemas dalam satu gerakan utuh dan menyeluruh sehingga nusantara mengaji berikhtiar bercita-cita bisa mendorong terwujudnya satu desa minimal satu hafiz.

Pembangunan dan perjuangan dalam rangka menyejahterakan masyarakat lewat eksekutif maupun legislatif, mulai dari presiden, menteri, gubernur, hingga bupati, kata dia, nampaknya berat sekali.

"Satu-satunya agar seluruh usaha berhasil, maka harus diiringi dengan doa. Kamu semua optimistis bahwa dengan membaca Al Quran kemudian diiringi dengan doa semua akan terkabulkan," ujarnya.

Kegiatan itu, katanya, juga untuk mengawal seluruh perjuangan Islam, politik Islam ahlusunnah waljamaah, baik jalur eksekutif maupun legislatif.

Dengan ikhtiar dan usaha keras, akhirnya nusantara mengaji berkembangan terus dan menjadi acara rutin dalam bentuk semaan Al Quran dan berbagai kegiatan lain.

"Pertama kali digelar, ditargetkan 300.000 kali semaan secara serentak. Ternyata bisa terlampaui karena mencapai dua juta khataman dalam waktu yang sama," ujarnya.

Untuk saat ini, kata dia, kegiatan "Nusantara Mengaji" adalah nusantara bertauhid yang diisi dengan agenda khataman, zikir, selawatan untuk mengawal negara ini yang sedang memiliki hajat kerja besar berupa Pemilu 2019.

"Tentunya dalam rangka berlomba-lomba berbuat kebajikan tentunya ada persaingan, hingga muncul hujatan, ancaman hingga ancaman perpecahan bangsa," ujarnya.

Atas permasalahan tersebut, dia mengajak, untuk tidak menjadi bagian dari memecah belah bangsa, melainkan berupaya untuk menenangkan tegangnya politik, salah satunya menggerakkan "Nusantara Bertauhid".

Ia berharap, melalui gerakan nusantara bertauhid tidak ada pilihan lain kecuali untuk menjaga terus ukuwah islamiyah dan persaudaraan antarsesama umat Islam untuk melahirkan keadaan yang damai, aman, dan tenteram.

"Pemilu sekeras apapun akan berjalan aman, damai, dan tenteram. Oleh karena itu, kami mohon doanya para kiai, hafiz, dan santri semoga pesta demokrasi tahun ini bisa berjalan lancar. Dengan berbagai perbedaan tetap dalam keadaan aman, nyaman, dan damai," ujarnya.

Gerakan "Nusantara Mengaji", katanya, sudah terlaksana di beberapa tempat, seperti Karawang, Banten, dan Kudus yang digelar Selasa ini.

Selanjutnya, kata dia, akan digelar di Masjid Sunan Ampel Surabaya.

"Keinginan kami bisa terlaksana di semua daerah di Tanah Air dari mulai Aceh hingga Papua," ujarnya.
 
Pewarta :
Editor: Mahmudah
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar