Menag ajak Muslim untuk adil dan damai

id Menag, Isra'Mi'raj

Menag ajak Muslim untuk adil dan damai

Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin. (Foto: Nalendra)

Sukoharjo (ANTARA) - Menteri Agama RI Lukman Hakim mengajak umat Islam untuk adil dan damai.

"Moderat artinya berimbang, adil, dan tidak berlebihan merupakan ajaran terpenting dalam Islam," katanya pada peringatan Isra' Mi'raj 2019 di GOR Pandawa, Solobaru, Kabupaten Sukoharjo, Provinsi Jawa Tengah, Rabu.

Ia mengatakan Muslim harus berlaku adil karena lebih dekat dengan takwa. Menurut dia, kebencian tidak sepatutnya dilawan dengan kebencian.

"Kebencian akan sirna jika dibalas dengan cinta. Perbedaan tidak seharusnya melahirkan adagium, kami versus mereka. Melainkan harus menumbuhkan kesempatan bahwa kami adalah mereka dan mereka adalah kami karena kami dan mereka adalah kita," katanya.

Ia juga meminta kaum Muslim kembali meneguhkan sikap memilih jalan tengah atau wasatiyah dalam beragama, berbangsa, dan bernegara.

"Bangsa Indonesia berdiri dari masyarakat yang plural dan multikultural, beragam etnis, agama, budaya, dan adat istiadat.
Kami berharap momentum ini bisa meningkatkan persaudaraan sesama Muslim, anak bangsa, dan umat manusia," katanya.

Sementara itu, ia tidak menampik menjaga kerukunan dan mengelola kehidupan keagamaan saat ini terasa lebih sulit akibat terpaan limbah media sosial dan derasnya arus disrupsi teknologi komunikasi dan informasi.

"Namun bagaimanapun komitmen keagamaan dan kebangsaan ini diperlukan demi terciptanya suasana keagamaan dan kebangsaan yang kondusif terutama jelang pesta demokrasi yang meniscayakan adanya keberpihakan dan pilihan," katanya.

Menurut dia, semua keragaman; keberpihakan, dan pilihan harus dilakukan dalam semangat persatuan dan bingkai NKRI.

Adapun, peringatan Isra' Mi'raj tersebut juga dihadiri oleh Presiden Joko Widodo dan Iriana Joko Widodo. Pada sambutannya, Jokowi menyampaikan agar masyarakat di Indonesia terus menjaga persatuan dan kedamaian.

"Kita ini bangsa besar, jangan sampai warga tidak saling bertegur sapa hanya karena beda pendapat, termasuk perbedaan pilihan politik," katanya.

 
Pewarta :
Editor: Achmad Zaenal M
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar