Harga gabah di Kudus anjlok

id Harga gabah, kudus

Harga gabah di Kudus anjlok

Panen tanaman padi di Desa Larikrejo, Kecamatan Undaan, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah. (Foto: Akhmad Nazaruddin Lathif)

Kudus (ANTARA) - Harga jual gabah di Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, pekan ini anjlok menyusul kualitas tanaman padi yang juga mengalami penurunan akibat masih diguyur hujan.

"Saat ini, harga jual gabah di pasaran berkisar Rp430 ribu per kuintal atau lebih rendah dibandingkan dengan sebelumnya bisa mencapai Rp500 ribu lebih per kuintal," kata salah seorang petani asal Desa Tanjungkarang, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus, Sulkan, di Kudus, Sabtu.

Dari harga jual Rp500 ribu/kuintal, kata dia, memang sempat turun sedikit, kemudian sekarang turun kembali menjadi Rp430 ribu/kuintal.

Selain faktor cuaca, kata dia, petani juga kesulitan menjemur gabah hasil panennya karena masih tingginya curah hujan.

"Jika tidak segera dijemur, tentunya kualitas gabahnya juga akan menurun sehingga harga jualnya ketika diproses menjadi beras juga turun," ujarnya.

Bahkan, kata dia, saat ini banyak tanaman padi milik petani juga banyak yang roboh akibat hujan yang disertai angin kencang.

Hal itu, kata dia, berdampak pada harga jual gabahnya karena kualitasnya menurun akibat tingginya kandungan air.

Untuk produktivitas tanaman padi di Desa Tanjungkarang, kata dia, berkisar 6 ton lebih karena mayoritas sawah tadah hujan.

Akrab, petani lain asal Kecamatan Undaan, Kabupaten Kudus mengakui harga gabah saat ini memang menurun.

Jika sebelumnya bisa mencapai Rp520 ribu per kuintal, kata dia, saat ini menurun menjadi Rp330 ribu per kuintalnya.

Hal itu, lanjut dia, disebabkan karena cuaca yang masih sering turun hujan sehingga berdampak pada kualitas gabahnya semakin menurun.

Ia mengaku beruntung bisa panen lebih awal, sekitar bulan Februari 2019 sehingga harga jualnya masih mencapai Rp500 ribu per kuintal.

"Meskipun petani yang panen sekarang tidak seberuntung yang panen lebih awal, petani masih bisa untung," ujarnya.

Biaya operasional petani untuk setiap hektarnya, kata dia, berkisar Rp10 jutaan, sedangkan hasil penjualan gabahnya bisa mencapai Rp20-an juta lebih, disesuaikan dengan produktivitas dan kualitasnya.

Jika petani bisa tanam sesuai jadwal, yakni bulan September 2019, maka petani dipastikan bisa untung lebih besar.
Pewarta :
Editor: Achmad Zaenal M
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar