Kekeringan, tiga desa di Kudus kesulitan air bersih

id tiga desa,di kudus,kesulitan air bersih

Kekeringan, tiga desa di Kudus kesulitan air bersih

KUDUS - Tim Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kudus, Jawa Tengah, tengah mengalirkan air ke bak penampungan air bersih di Desa Setrokalangan, Kecamatan Kaliwungu, Kabuparten Kudus. (FOTO: Akhmad Nazaruddin Lathif)

Kudus (Antaranews Jateng) - Sebanyak tiga desa di Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, mulai membutuhkan pemasokan air bersih, menyusul debit air sumur warga desa setempat mulai berkurang pada musim kemarau seperti sekarang.

Kepala Pelaksana Harian Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kudus, Bergas Catursasi Penanggungan, di Kudus, Rabu, mengatakan, pengajuan bantuan air bersih ke BPBD Kudus hingga kini memang baru dari tiga desa.

Ketiga desa tersebut, yakni Kedungdowo dan Desa Setrokalangan, Kecamatan Kaliwungu, serta Desa Kutuk, Kecamatan Undaan, Kabupaten Kudus.?

Untuk Desa Kutuk, kata dia, baru mengajukan bantuan air bersih ke BPBD hari ini (5/9), sedangkan dua desa lainnya sudah lebih dahulu mendapatkan pemasokan air bersih.

Dalam rangka memudahkan masyarakat dalam mengambil air bersih, maka BPBD Kudus menyiapkan bak penampung air berukuran 2.000 liter yang ditempatkan di dua desa tersebut.

Jumlah bak penampungan air yang ditempatkan di Desa Kedungdowo sebanyak enam unit, sedangkan Desa Setrokalangan sebanyak tiga unit ditambah dua unit milik pemerintah desa.

"Droping air bersih di dua desa dilakukan setiap hari untuk memenuhi kebutuhan masyarakat setempat," ujarnya.

Demikian halnya di Desa Kutuk, kata dia, akan diterapkan hal yang sama dengan menempatkan bak penampungan air agar masyarakat bisa mengambilnya setiap saat dan saat droping air juga tidak perlu menunggu warga menyiapkan tempat untuk menampung air.

"Karena kami baru melakukan survei lokasi hari ini (Rabu) untuk mengetahui , lokasi yang tepat untuk menempatkan bak penampung airnya, maka droping air bersih dijadwalkan Kamis (6/9)," ujarnya.

Ia berharap masyarakat memanfaatkan air bersih tersebut sesuai kebutuhan, terutama untuk mememuhi kebutuhan air minum, bukannya untuk mandi dan mencuci.

Berdasarkan prakiraan cuaca dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), kata dia, September 2018 merupakan puncak terjadinya musim kemarau.

Untuk itu, dia mengingatkan, masyarakat agar menghemat air bersih sehingga menggunakannya sesuai kebutuhan dan tidak boros agar saat puncak kemarau air tetap tersedia.

Berdasarkan data BPBD Kudus, jumlah daerah rawan kekeringan di Kabupaten Kudus saat ini berkurang dari sebelumnya tercatat 24 desa yang tersebar di delapan kecamatan, yakni Kecamatan Gebog, Kaliwungu, Jati, Undaan, Dawe, Bae, Jekulo, dan Mejobo, kini berkurang menjadi 20 desa yang tersebar di empat kecamatan.

Keempat kecamatan tersebut, yakni Kecamatan Kaliwungu, Undaan, Jekulo dan Mejobo.

Desa yang masuk kategori rawan kekurangan air bersih, yakni Desa Blimbing Kidul, Setrokalangan, Kedungdowo, Papringan, Banget, dan Sidorekso (Kecamatan Kaliwungu), Desa Kutuk, Glagahwaru, Terangmas, Lambangan (Kecamatan Undaan), serta Desa Sidomulyo, Desa Pladen, Desa Sadang, Bulung Kulon, Bulung Cangkring (Jecamatan Jekulo).

Sementara di Kecamatan Mejobo, meliputi Desa Temulus, Hadiwarno, Kesambi, Jojo dan Payaman.

Untuk antisipasi daerah rawan kekurangan air bersih, maka BPBD Kudus setiap tahunnya selalu menyediakan anggaran untuk penyediaan air bersih.

BPBD Kudus juga melibatkan perusahaan swasta untuk membantu pemasokan air bersih untuk kawasan tertentu sehingga masyarakat yang membutuhkan suplai air bersih bisa segera tertangani. 
Pewarta :
Editor: Mahmudah
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar