Logo Header Antaranews Jateng

Transsemarang alihkan rute antisipasi jalan rusak

Senin, 19 Februari 2018 22:17 WIB
Image Print
ilustrasi-Petugas dari Badan Layanan Umum (BLU) Trans Semarang. (Foto: Dok BLU Trans Semarang)

Semarang (Antaranews Jateng) - Badan Layanan Umum (BLU) Trans Semarang mengalihkan rute Bus Rapid Transit (BRT) Transsemarang pada Koridor VI untuk mengantisipasi dampak jalur semula yang kembali rusak dan ambles.

"Keselamatan para pengguna jasa yang kami prioritaskan. Jalur semula lewat Jalan Pawiyatan Luhur rusak, makanya kami alihkan rute," kata Pelaksana Tugas (Plt) Kepala BLU Trans Semarang Ade Bhakti di Semarang, Senin.

Ia menjelaskan rute semula yang dilalui Koridor VI Trans Semarang adalah melewati Gelanggang Olahraga (GOR) Jatidiri-Universitas Katolik Soegijapranata-Akpelni Semarang melewati jalur Pawiyatan Luhur.

Akan tetapi, kata dia, mulai Jumat (16/2) lalu rute BRT Transsemarang pada Koridor VI dialihkan melewati Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) dr Kariadi-Kaligarang-Sampangan.

Pengalihan rute koridor yang menghubungkan dua kampus negeri, yakni Universitas Diponegoro (Undip) di Tembalang dan Universitas Negeri Semarang (Unnes) di Gunungpati itu, kata dia, sampai jalur Pawiyatan Luhur selesai diperbaiki.

"Kami sudah memasang pengumuman di setiap `shelter` mengenai pengalihan jalur untuk Koridor VI ini. Jadi, penumpang bisa mengetahui mana yang tidak dilewati oleh armada kami," katanya.

Dengan pengalihan rute untuk Koridor VI Transsemarang itu, kata dia, ada beberapa "shelter" yang tidak dilewati armada, yakni Shelter Don Bosco, Shelter Jatidiri, Shelter Unika Soegijapranata, dan Shelter Akpelni.

"Sudah kami tempelkan pengumuman dibantu rekan-rekan dari Divisi Operasional dan Sarana Prasarana. Ini (Pengalihan rute, red.) semata-mata demi keselamatan pengguna moda transportasi BRT Transsemarang," katanya.

Mengenai sampai kapan operasional pengalihan rute tersebut, Ade mengatakan pengalihan rute untuk Koridor VI hanya bersifat sementara menunggu jalur semula diperbaiki agar tidak membahayakan perjalanan moda transportasi massal itu.



Pewarta:
Editor: Nur Istibsaroh
COPYRIGHT © ANTARA 2026