
Hubungkan dua kampus Unnes-Undip, bus feeder listrik Trans Semarang diminati masyarakat

Semarang (ANTARA) - Bus feeder listrik yang dioperasikan Trans Semarang di Jawa Tengah diminati masyarakat, seperti terlihat di Koridor 6 yang menghubungkan dua kampus yakni Universitas Negeri Semarang (Unnes) dan Universitas Diponegoro (Undip).
Tak perlu menunggu lama, armada feeder dengan panjang 6 meter yang berhenti di halte kampus Unnes di Semarang, Kamis, segera terisi penuh oleh penumpang .
Bus feeder adalah armada pengumpan yang berfungsi sebagai penghubung kawasan permukiman atau kampus menuju ke koridor utama yang biasanya menggunakan armada mikrobus.
Herlina, mahasiswi Unnes, mengaku bus feeder itu menjadi angkutan setianya untuk berkuliah, mengingat rumahnya yang cukup jauh yakni di Karangjati, Kabupaten Semarang.
Namun, kali ini secara kebetulan naik bus feeder listrik yang menurutnya lebih nyaman, lebih senyap, dan lebih empuk ketimbang feeder bermesin konvensional.
"Baru kali ini, kebetulan aja dapat (feeder) yang listrik. Malah baru tahu ada. Pantesan lebih senyap," kata mahasiswi Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) Unnes tersebut.
Nur karyawan swasta yang juga baru pertama kali naik bus feeder listrik mengaku senang karena moda transportasi ini lebih nyaman dan minim getaran.
"Baru pertama kali juga. Enak (feeder) yang listrik sih, dibanding yang biasa ya. Tapi, sayangnya enggak banyak yang kayak gini (bus feeder listrik)," katanya.
Bus feeder listrik itu merupakan produksi PT VKTR Teknologi Mobilitas Tbk bersama mitra karoseri Laksana yang menjalani rangkaian uji coba untuk pengembangan armada baru Trans Semarang.
Direktur dan Chief Operational Officer VKTR V. Bimo Kurniatmoko, menyampaikan pihaknya tidak hanya mendorong kemandirian industri, tetapi juga membuka akses yang lebih luas terhadap lingkungan yang sehat bagi masyarakat.
Unit bus yang digunakan merupakan hasil kolaborasi manufaktur lokal dari Jawa Tengah, dengan proses produksi yang dilakukan di Magelang dan Ungaran.
"Dampaknya tidak hanya pada aspek ekologis, tetapi juga ekonomi melalui penciptaan lapangan kerja dan penguatan ekosistem industri lokal," katanya.
Sementara itu, Direktur Teknik Laksana Stefan Arman menambahkan pihaknya berkomitmen mendukung pengembangan transportasi yang lebih sehat dan berkualitas.
"Kolaborasi dengan VKTR menunjukkan kesiapan industri lokal dalam menghadirkan kendaraan publik yang modern, aman, dan relevan dengan kebutuhan masyarakat, sekaligus membuktikan daya saing industri dalam negeri di era elektrifikasi," katanya.
Rangkaian uji coba dilakukan dalam tiga fase, yakni fase 1 uji coba bus listrik single 12 meter di Koridor 1 (Terminal Mangkang – Terminal Penggaron) pada periode 13 Februari-10 Maret 2026.
Kemudian, fase 2, yakni uji coba bus listrik medium 8 meter di Koridor 5 (PRPP-Meteseh) pada periode 12 Maret-7 April 2026, dan fase 3 dengan feeder listrik transporter 6 meter di Koridor 6 (Undip-Unnes) pada 15-28 April 2026.
Baca juga: DPRD Semarang: Evaluasi menyeluruh operator Trans Semarang
Pewarta: Zuhdiar Laeis
Editor:
Edhy Susilo
COPYRIGHT © ANTARA 2026
