
Pangdam Diponegoro Ingatkan Ancaman Disintegrasi Bangsa

Batang, ANTARA JATENG - Pangdam IV Diponegoro Mayor Jenderal TNI Wuryanto mengingatkan pada masyarakat selalu waspada terhadap ancaman disintegrasi bangsa pada era kompetisi global.
"Saya buka wawasan bahwa kita di dalam kompetisi global banyak yang ingin memperebutkan Indonesia yang kaya raya ini. Psywar (perang) dengan segala aspek kehidupan, kita yang akan menjadi sasarannya," katanya seusai acara silaturahmi bersama santri di Pondok Pesantren Moderen Tazakka di Batang, Jawa Tengah, Sabtu.
Ia mengatakan bahwa hakekat ancaman sudah hampir semua komponen merasakan. Hanya saja, masyarakat belum menyadari tentang hal itu.
"Sekarang, masyarakat dan santri menjadi sasaran untuk dilemahkan, dipecah belah atau dibenturkan. Oleh karena, saya ingatkan semuanya agar ke depan apa yang akan dilakukan oleh masing-masing bangsa sesuai dengan tugas, fungsi, dan tanggung jawab terhadap kedudukannya," katanya.
Ia mengatakan Ponpes Tazakka memiliki santri yang berasal dari 21 provinsi di Indonesia sehingga mungkin sekitar 60 persen suku bangsa di Indonesia belajar di Ponpes Moderen tersebut.
"Keberagaman yang ditunjukkan saat acara di ponpes Tazakka ini menjadi contoh persatuan bagi Bangsa Indonesia di daerah lain," katanya.
Ia menilai salah satu visi Ponpes Tazakka adalah sebagai perekat umat sesuai cita-cita luhur para pendiri bangsa Indonesia.
"Saya sengaja dari kodam dengan mengajak banyak pimpinan agar memberikan gambaran ke pimpinan Kodam Diponegoro bahwa pelaksanaan pendidikan di Pondok Moderen Tazakka searah dan sejalan dengan cita-cita luhur bangsa Indonesia dan searah tugas TNI," katanya.
Menurut dia, seandainya semua lembaga pendidkan di Indonesia seperti Ponpes Tazakka maka bangsa Indonesia sudah mencapai kedamaian dari dulu.
"Semua belum terlambat, Ponpes Tazakka dapat menjadi contoh bagi lembaga pendidikan lainnya di Indonesia," katanya.
Pewarta: Kutnadi
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
