
Sebagian Pilih Beli Gawai daripada Perhiasan Emas

"... dulu membelanjakan uang angpau dengan perhiasan emas, sekarang sebagian masyarakat memilih beli `gadget`," katanya.
Semarang, ANTARA JATENG - Asosiasi Pengusaha Emas dan Permata Indonesia (APEPI) Kota Semarang menyatakan sampai kini belum ada kenaikan penjualan perhiasan emas, bahkan muncul tren baru bahwa sebagian orang kini memilih membeli gawai (gadget) daripada perhiasan emas
"Meski sudah makin dekat dengan Lebaran, peningkatan penjualan belum terasa. Kalau melihat tahun-tahun sebelumnya, peningkatan akan terasa pada H-7 hingga H-2 Lebaran," kata Ketua APEPI Kota Semarang Bambang Yuwono di Semarang, Rabu.
Ia mengatakan pada puncak peningkatan penjualan bisa sampai 50 persen lebih tinggi dibandingkan dengan hari normal seperti saat ini. Meski demikian, kenaikan penjualan tersebut tidak dirasakan lama oleh para penjual emas.
"Kalaupun lebih lama paling hanya sampai H-1 Lebaran, selanjutnya normal lagi. Bahkan, setelah Lebaran yang biasanya kalau dulu membelanjakan uang angpau dengan perhiasan emas, sekarang sebagian masyarakat lebih memilih membeli `gadget`," katanya.
Meski tidak berlangsung lama, dia mengakui sejumlah penjual perhiasan tetap mempersiapkan diri, salah satunya dengan memperbanyak stok mulai dari perhiasan untuk anak-anak hingga dewasa.
Dari sisi jenisnya, Bambang mengatakan menjelang Lebaran seluruh jenis perhiasan biasanya laku terjual.
Dari sisi harga, katanya, sejauh ini belum ada peningkatan dan diperkirakan hingga mendekati Lebaran harganya akan stabil.
"Kalau untuk perhiasan emas 75 karat harga Rp450.000/gram, sedangkan untuk perhiasan 42 karat harganya Rp260.000/gram," katanya.
Untuk harga emas 24 karat atau emas batangan, harganya Rp530.000/gram.
Berbeda dengan emas perhiasan, katanya, untuk emas batangan biasanya tidak ada peningkatan penjualan menjelang Lebaran mengingat segmentasi pasarnya lebih terbatas.
"Kalau emas batangan biasanya pengusaha, mereka beli untuk investasi. Berbeda dengan emas perhiasan yang segmentasi pasarnya lebih luas," katanya.
Pewarta: Aris Wasita Widiastuti
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026
