
Dikti: Banyak Perguruan Tinggi Masih Berkutat "Teaching University"

Semarang, ANTARA JATENG- Direktur Pembinaan Kelembagaan Pendidikan Tinggi Ditjen Kelembagaan IPTEK Dikti Kementerian Riset Teknologi dan Dikti Dr. Totok Prasetyo menilai banyak perguruan tinggi masih berkutat "teaching university".
"Mereka hanya berkutat sebatas proses pengajaran saja. Maka, `teaching university` ini rasio mahasiswa dan dosennya banyak. Bagaimana perguruan tinggi untuk `go-international`? Ini kendalanya," katanya di Semarang, Rabu.
Hal tersebut diungkapkan mantan Direktur Politeknik Negeri Semarang (Polines) itu usai Unnes University President Forum 2017 yang berlangsung di Hotel Grand Candi Semarang, Jawa Tengah, yang diprakarsai Universitas Negeri Semarang.
Menurut dia, perguruan tinggi yang mau "go-international" membutuhkan jalinan kerja sama yang baik dengan banyak pihak, seperti "student exchange" (pertukaran mahasiswa), pertukaran dosen, hingga "join research" (riset bersama).
"Perguruan tinggi harus menjalankan tridharma, yakni pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat secara seimbang. Jangan hanya banyak mengajarnya kalau mau dikenal masyarakat internasional," wanti Totok.
Dikti, kata dia, sudah memetakan berbagai kendala yang dihadapi perguruan tinggi untuk "go-international" dan berupaya menguranginya, salah satunya dengan bekerja sama pihak imigrasi untuk mengeluarkan "student visa".
Dengan adanya visa ini, ia mengatakan semakin mempermudah untuk mendatangkan mahasiswa asing ke Indonesia agar keberadaan perguruan-perguruan tinggi di Indonesia dikenal secara luas oleh masyarakat internasional.
Selain itu, kata dia, perguruan tinggi tidak bisa hanya menyatakan diri sebagai universitas riset jika ternyata tidak melakukan banyak hal dengan riset dan diharapkan tidak semua perguruan tinggi ikut-ikutan jadi universitas riset.
Diakuinya, hampir semuanya dari 4.500 perguruan tinggi, baik negeri maupun swasta di Indonesia masih berkutat "teaching university", tetapi Dikti memang tidak kemudian mendorong semua PT menjadi "riset university".
"Kami lakukan pembinaan. Yang universitas riset, ya, biarkan mereka memfokuskan risetnya. Jadi, tidak semuanya atau 4.500 perguruan tinggi itu didorong ke universitas riset. Yang penting, `on the right track`," pungkasnya.
Sementara itu, Rektor Unnes Prof Fathur Rokhman mengatakan setiap perguruan tinggi memiliki keunggulan masing-masing yang bisa dikembangkan, seperti "teaching university", "riset university", atau "entrepreneur university".
Sebagai lembaga pendidikan tenaga kependidikan (LPTK), ia bangga Unnes sudah cukup dikenal di dunia internasional dengan mengunggulkan visi universitas konservasi, bukan hanya lingkungan, melainkan juga karakter dan kultur.
"Selain daya saing, perguruan tinggi di Indonesia harus mengembangkan daya sanding. Artinya, apa yang dikembangkan di sana, tidak kemudian disaingi, tetapi kembangkan apa yang belum ada menjadi kekuatan Indonesia," pungkasnya.
Pewarta: Zuhdiar Laeis
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026
