Logo Header Antaranews Jateng

KPID: Mengukur Kenetralan Berita Itu Sulit

Senin, 27 Maret 2017 13:45 WIB
Image Print
Ketua KPID Provinsi Jawa Tengah, Budi SP, memaparkan persoalan kebijakan media dalam diskusi "Membedah Kebijakan Media dalam Polemik Semen Rembang" di Magister Ilmu Komunikasi Undip Semarang, Senin (27/3/2018). (Foto: ANTARAJATENG.COM/Achmad Zaenal M

Semarang, ANTARA JATENG - Ketua Komisi Penyiaran Indonesia Daerah Jawa Tengah, Budi SP, menilai bahwa mengukur kenetralan berita dalam sebuah peristiwa yang memicu polemik itu sulit karena saat ini bagian pemasaran lebih mudah masuk ke ruang redaksi.

"New room" sekarang ini, kata Budi dalam diskusi "Membedah Kebijakan Media dalam Polemik Semen Rembang" di Magister Ilmu Komunikasi Universitas Diponegoro Semarang, Senin, pada banyak media sudah dikuasai oleh bagian "marketing".

Rezim peringkat (rating), menurut dia, menjadikan berita yang disajikan cenderung dinilai apakah bisa meningkatkan jumlah pemirsa, pembaca, atau mendatangkan iklan.

"Oleh karena itu, sulit untuk mengukur kenetralan berita," katanya dalam diksusi yang diprakarsai oleh Kelompok Kajian Kebijakan Media (K3M) tersebut.

Menurut Budi, reporter dan produser saat ini tidak bisa begitu saja menjalankan tugas secara independen berdasarkan dorongan nuraninya. "Bahkan, mereka (reporter dan produser) tidak ingin hasil karyanya itu dibaca oleh anak-anaknya. Ini mengerikan," kata Budi yang juga Bendahara Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Provinsi Jawa Tengah itu.

Ketua K3M, Alkomari, menilai pemberitaan semen Rembang kental dengan tarik-menarik kepentingan ekonomi dan politik, misalnya, mulai dari kepentingan iklan hingga peluang Ganjar Pranowo terpilih kembali dalam Pilgub Jateng 2018.

Akan tetapi, menurut Redaktur Pelaksana Tribun Jateng, Erwin Ardian, hanya kenetralan pemberitaan yang mampu menyelamatkan media dari ancaman ditinggalkan pembaca yang berujung pada kematian media.

Menurut dia, keberpihakan dalam pemberitaan, termasuk dalam kasus Semen Rembang, justru menyebabkan sebuah media ditinggalkan pembaca.

"Buktinya kami masih bisa tumbuh dalam persaingan media yang kian sengit," kata insinyur teknil sipil lulusan Untag Semarang itu.

Wakil Pemimpin Redaksi Suara Merdeka, Ananto Pradono, menyatakan apa pun yang dilakukan oleh media selalu mengandung risiko, karena hal itu sebuah pilihan.

"Dalam dunia persilatan selalu ada yang nomor satu, sedangkan dalam dunia persuratan selalu ada yang nomor dua," ujarnya mengutip novel Bende Mataram.



Pewarta:
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026