Logo Header Antaranews Jateng

Tradisi Masyarakat Gunung Wujud Orisinal Kegotong-royongan

Senin, 14 Desember 2015 19:44 WIB
Image Print
Penampilan salah satu grup kesenian tradisional saat tradisi "perti bumi" masyarakat kawasan Gunung Andong dan Merbabu di Desa Bandungrejo, Kecamatan Ngablak, Kabupaten Magelang belum lama ini. (dokumen "Ki Sodong Rumah Budaya" Kabupaten Magelang).

"Melalui tradisi masyarakat yang dilakukan berdasarkan penanggalan Jawa itu, mereka menunjukkan bahwa semangat gotong royong masih tetap dijaga, dilestarikan, dan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Tradisi itu, menjadi puncak-puncak wujud semangat gotong royong," katanya di Magelang, Senin.

Abet yang juga pemimpin "Ki Sodong Rumah Budaya" Kabupaten Magelang itu, mengatakan hal tersebut ketika berkomentar tentang semangat masyarakat di berbagai desa dan gunung yang melingkupi daerah setempat, dalam melaksanakan berbagai tradisi mereka berdasarkan penanggalan Jawa.

Ia menyebut mereka menjalani tradisi tersebut, mulai dari persiapan hingga pelaksanaan, sebagai tanpa pamrih dan bebas dari praktik transaksi tertentu yang bersifat material.

"Gotong royong, itu poin pentingnya untuk bejalar dari masyarakat gunung. Tidak ada pamrih apa pun, sepeser duwit, transaksi tertentu, tetapi murni atas kerelaaan hati masyarakat untuk membangun semangat hidup bersama-sama dalam suasana persaudaraan dan kekeluargaan," ucapnya.

Ia mengatakan bahwa belajar tentang tradisi masyarakat bisa dilakukan dengan baik melalui acara-acara tradisi masyarakat desa dan gunung.

Tradisi gotong royong sebagai warisan nenek moyang Bangsa Indonesia, katanya, harus terus dilestarikan dan dikembangkan, sedangkan pemerintah perlu memandang penting untuk selalu hadir di tengah masyarakat yang melaksanakan berbagai tradisi budaya tersebut.

Ia mencontohkan tentang tradisi "perti bumi" dilakukan masyarakat Desa Bandungrejo, Kecamatan Ngablak, Kabupaten Magelang di kawasan antara Gunung Andong dan Merbabu belum lama ini, yang antara lain dihadiri Ketua Komisi I Dewan Perwakilan Daerah RI asal Jawa Tengah A. Muqowam.

"Itu merupakan kearifan masyarakat gunung, ungkapan syukur atas kesuburan tanah, atas hasil panen, dan karunia Allah SWT melalui alam yang subur. Juga wujud doa supaya terbebas dari bencana. Selama seminggu sebelumnya, masyarakat bergotong royong membuat persiapan dan melaksanakan dengan meriah," ujarnya.

Rangkaian acara tersebut, antara lain kirab budaya, pentas kolosal kesenian tradisional, "grebek gunungan perti bumi", pameran potensi desa, pemutaran film, dan rembuk budaya dengan pembicara Ketua Umum Lembaga Seni dan Budaya Muslim Indonesia (Lesbumi) Nahdlatul Ulama Zastrouw Al-Ngatawi dan Pimpinan Pondok Pesantren Asrama Perguruan Islam (API) Tegalrejo Kabupaten Magelang K.H. Muhammad Yusuf Chudlori.

Sejumlah grup kesenian yang turut pentas pada kesempatan itu, antara lain dari kelompok musik Ki Ageng Ganjur, Sanggar Nuun Jogja, Grup Kalimosodo Kabupaten Magelang, serta penampilan artis Evie Tamala dan Yus Yunus.



Pewarta :
Editor: M Hari Atmoko
COPYRIGHT © ANTARA 2026