
Dua Negara Tertarik Bantu Semarang Kelola Sampah

"Ada beberapa negara yang menawarkan pengelolaan sampah, yakni Denmark dan China (Tiongkok, red.)," katanya usai meninjau Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Jatibarang Semarang, Selasa sore.
Menurut dia, dua negara itu siap mengaplikasikan teknologi pengelolaan sampahnya di Semarang, terutama di TPA Jatibarang, apalagi duta besar negara itu juga pernah melakukan peninjauan.
Ia mengatakan selama ini Pemerintah Kota Semarang melakukan pengelolaan sampah di TPA Jatibarang yang menghasilkan pupuk bekerja sama dengan pihak ketiga setidaknya 350 ton sampah setiap harinya.
"Volume sampah yang dihasilkan masyarakat Kota Semarang setidaknya mencapai 1.200 ton/hari. Namun, sampah yang mampu terangkut sampai ke TPA Jatibarang hanya sekitar 800 ton/hari," katanya.
Dari 800 ton sampah yang masuk ke TPA Jatibarang setiap harinya, kata mantan Kepala Badan Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (Bapermades) Jawa Tengah itu, 350 ton di antaranya diolah jadi pupuk.
"Ya, kemampuan olahnya (sampah, red.) menjadi pupuk sekitar 350 ton/hari yang sanggup menghasilkan 200 ton pupuk. Selain itu, sampah-sampah ini juga sudah dikelola hingga menjadi gas metan," katanya.
Gas metan yang dihasilkan dari pengelolaan sampah di TPA Jatibarang, kata dia, sementara ini sudah didistribusikan untuk kebutuhan rumah tangga kepada sebanyak 20 kepala keluarga di daerah setempat.
Tavip mengakui masih cukup banyaknya sampah yang belum mampu terolah setiap harinya, termasuk sampah-sampah yang belum bisa masuk ke TPA Jatibarang yang volumenya sekitar 400 ton/harinya.
"Beberapa kawasan memang sudah melakukan pengelolaan sampah secara mandiri, seperti di kawasan Bukit Semarang Baru (BSB). Ya, hampir sama seperti di TPA ini meski masih skala kecil," katanya.
Makanya, kata dia, Pemkot Semarang masih terus menjajaki tawaran beberapa negara untuk membantu pengelolaan sampah itu, terutama menghitung kemanfaatan yang didapatkan dari aplikasi teknologi itu.
"Intinya, kami ingin menghitung secara cermat kemanfaatan teknologi yang mereka tawarkan. Kajian-kajian masih terus dilakukan. Kami masih mencari mana yang paling baik," pungkas Tavip.
Pewarta: -
Editor:
Zuhdiar Laeis
COPYRIGHT © ANTARA 2026
