Logo Header Antaranews Jateng

Lampu Hias Cantik Berbahan Tempurung Kelapa dari Sukoharjo

Senin, 29 Juni 2015 12:00 WIB
Image Print
Ilustrasi - Ony (29)) menata lampu dari batok kelapa buatannya yang diklaim buatan Malaysia di MOG, Malang, Jawa Timur, Senin (16/11). Kerajinan batok kelapa yang dijual Rp.35.000 hingga 250 ribu rupiah tersebut sudah memasuki pasar ekspor ke Malaysi

Perajin tersebut, yakni Sarwidiyanto (45), warga Desa Laban RT 01 RW 01 Kecamatan Mojolaban, di Sukoharjo, Senin, mengatakan bahwa idenya memang terus berkembang dari lampu hias tempurung kelapa bentuk aslinya kini menjadi berbagai binatang sepertri gajah, semut, dan siput.

"Saya sebelumnya membuat barang bernilai ekonomi dari tempurung ini, antara lain berupa asbak, alat musik tradisional perkusi, sendok sayur, dan lampu bentuknya sesuai aslinya tempurung," kata Sarwidiyanto.

Ia mengatakan bahwa ia terus melakukan inovasi dan pengembangan desain lampu hias tersebut, seperti bentuk berbagai jenis binatang. "Untuk membuat berbagai jenis binatang itu memerlukan keahlian khusus dengan ketelatenan," ujarnya.

Sarwidiyanto mencontohkan membuat lampu hias bentuk semut yang diperlukan dua hingga tiga tempurung kepala bentuk bulat untuk kepala dengan perutnya. Setelah itu, dibuat hiasan seperti semut dengan menggunakan alat bor dan gergaji kecil.

"Saya menggunakan kayu limbah untuk bentuk kaki, kemudian dicat pernis agar coraknya sesuai warna alami. Saya menggunakan lampu 2,5 hingga lima watt, sehingga kelihatan cantik dan bernilai tinggi.

Menurut Sarwidiyanto, perajin yang membuat kerajinan lampu tempurung kelapa tersebut di eks-Keresidenan Surakarta kemungkinan hanya dirinya saja.

Harga lampu hias tempurung kelapa tersebut bervariasi tergantung tingkat kerumitan cara membuatnya seperti bentuk gajah dijual Rp150 ribu per buah, siput Rp125 ribu per buah dan semut Rp150 ribu per buah dan bentuk tokoh kartun "Mickey Mouse" Rp140 ribu per buah.

Sarwidiyanto mengatakan cara memasarkan barang produksinya itu melalui media "online" dan ikut membuat stan di "Night Market" Ngarsopuro Solo setiap Sabtu malam Minggu.

"Saya yakin produk ekonomi kratifnya mulai dilirik konsumen, meski omzet penjualan rata-rata masih sekitar 10 hingga 15 buah lampu hias per bulan," katanya.

Menurut Sarwidiyanto bahwa konsumen yang membeli barang produksinya tersebut datang selain dari Solo, Jakarta, Jepara, dan Pulau Kalimantan.



Pewarta :
Editor: Mahmudah
COPYRIGHT © ANTARA 2026